Menu

29.11.14

MAKALAH PRAGMATIK






MAKALAH PRAGMATIK


Disusun Oleh:
Kelompok IV

Emmie Apriani

Chaerunissa
Dedi Kustiawan
Ferriska Handayani
Tenny Indriaty Noer F
Intan Nur Pratiwi
Pragmatik 



UNIVERSITAS GALUH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN AJARAN 2010/2011



1.      PRAGMATIK DAN TINDAK UJAR

A.    Pengertian Pragmatik
Pragmatik merupakan ilmu yang  mempelajari tentang makna ujar yang disesuaikan dengan situasi tertentu.

B.     Aneka Aspek Situasi Ujaran
Dalam memberikan sebuah ujaran, kita harus memperhatikan unsur waktu, tempat dan situasi ujaran. Kegunaan nyata dari pengetahuan mengenai aspek-aspek ujaran ialah memudahkan kita untuk menentukan hal-hal yang merupakan bidang pragmatik ataupun semantik.
a)      Pembicara dan Penyimak
Dalam setiap tindak ujar harus terdapat pihak pembicara dan pihak penyimak. Pernyataan tersebut dapat dijabarkan bahwapragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan tetapi juga mencakup bahasa tulis.
b)      Konteks Ujaran
Konteks disini sebagai latar belakang yang diperkirakan dimiliki dan disetujui oleh pembicara dan penyimak.
c)      Tujuan Ujaran
Setiap ujaran pasti mengandung suatu tujuan dan maksud tertentu didalam.
d)     Tindak Ilokusi
Pragmatik menggarap tindak verbal atau perfomansi yang berlangsung didalam situasi khusus dalam waktu tertentu dan pragmatik lebih konkrit dari pada tata bahasa yang membahas kesatuan statis yang abstrak seperti sintaksis dan semantik.
e)      Ucapan Sebagai Produk Tindak Verbal
Sebagaimana yang telah diutarakan diatas, maka ada pengertian lain dari kata ucapan yang dapat dipakai dalam pragmayik, yaitu mengacu pada produk suatu tindak verbal dan bukan hanya pada tindak verbal itu sendiri.

C.     Jenis Tindak Ujar
Leech membagi tindak ujar menjadi tiga jenis, yaitu:
a)      Tindak Lokusi
Tindak Lokusi semata hanya untuk menginfomasikan sesuatu tanpa ada maksud atau tujuan tertentu dalam penuturannya.
Contoh: Ujian sudah dekat.


b)      Tindak Ilokusi
Tindak Ilokusi biasanya disamping menginformasikan sesuatu juga dapat digunakan untuk melakukan sesuatu (perintah, janji , peringatan dll).
Contoh: Ujian sudah dekat.
Bila pernyataan ini dilontarkan oleh seorang guru kepada muridnya, bisa berfungsi sebagai peringatan kepada muridnya agar mempersiapkan diri. Bila dilontarkan oleh orang tua, bisa jadi berfungsi sebagai perintah untuk belajar.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa tindak ilokusi harus mempertimbangkan siapa penutur, lawan tutur, kapan dan dimana tindak tutur terjadi.
c)      Tindak Perlokusi
Tindak perlokusi merupakan hasil atau efek yang timbul dari suatu tindak tutur sesuai dengan situasi dan kondisi pengucap.
            Contoh : Ujian sudah dekat.
                        Dari segi perlokusi ujaran tersebut dapat membuat penyimak lebih semangat dalam belajar, makin tegang dalam menghadapi ujian atau biasa saja.

D.    Prinsip Konversasi
Terdapat dua prinsip konversasi:
a)      Prinsip kerja sama (cooperative principle)
·         Maksim Kuantitas
·         Maksim Kualitas
·         Maksim Relasi
·         Maksim Cara
b)      Prinsip sopan santun (politeness principle)
·         Maksim kebijaksanaan
·         Maksim Kedermawanan
·         Maksim Penghargaan
·         Maksim Kesederhanaan
·         Maksim Permufakatan
·         Maksim simpati
Keberhasilan suatu percakapan ditentukan oleh terlaksananya prinsip kerja sama dan sopan santun sehingga akan serasi tetapi unsur pengalaman.
Teori timdak ujar memusatkanperhatian pada cara penggunaan bahasa mengkomunikasikan maksud dan tujuan sang pembicara dan juga dengan maksud penggunaan bahasa yang dilaksanakannya.



2.      UNGKAPAN KEBIJAKSANAAN

A.  Klasifikasi Tindak Ilokusi
Berdasarkan bagaimana hubungannya dengan tujuan sosial tindak ilokusi dapat dibedakan menjadi empat jenis:
a)      Kompetitif      : Tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial
b)      Konvivial        : Tujuan ilokusi bertepatan dengan tujuan sosial
c)      Kolaboratif      : Tujuan ilokusi biasa-biasa terhadap tujuan sosial
d)     Konfliktif        : Tujuan ilokusi bertabrakan dengan tujuan sosial
Bila ditelisik,hanya dua jenis saja yang benar-benar terlibat dengan kesopansantunan yaitu Kompetitif dan Konvivial.
Tindak ilokusi dapat dikategorikan sebagai berikut:
a)      Asertif
b)      Direktif.
c)      Komisitif
d)     Ekspresif
e)      Deklaratif
   
B.  Kebijaksanaan dan Kesopansantunan
Pada hakikatnya kesopansantunan bersifat asimetris, sehingga untuk menghasilkan suatu skala kesopansantunan adalah menjaga kesamaan isi proposisional X (kata-kata tertentu yang di ucapkan dengan perasaaan) dan mempertinggi taraf kesopansantunan dengan mempergunakan lebih banyak jenis ilokusi tidak langsung.
Contoh : Saya harap anda dapat duduk dengan tenang.
            Ujaran diatas dapat bernilai sopan bagi pembicara dalam memerintahkan penyimak untuk diam, tetapi bisa jadi ujaran tersebut bernilai kunga sopan bagi penyimak karena mungkin penyimak lebih tua dari pembicara.
Berdasarkan Searle (1979) maka yang tercakup oleh ungkapan kebijaksanaan adalah direktif (atau impositif) dan komisif, yang dalam konteks proposisional X mengacu kepada beberapa tindakan penyimak atau pembicara.

C.  Paradoks Santun Pragmatik
Terlebih dahulu kita harus memahami apa sebenarnya Paradoks Pragmatik itu. Bila dijabarkan paradoks pragmatiks adalah suatu atribusi sikap bertentangan pada partisipan dalam suatu dialog. Paradoks kesopansantunan berfungsi sebagai suatu penyangkal atau pencegah terhadap sejenis paradoks lain yang lebih berbahaya.


D.  Interpretasi Impositifrta
Penafsiran impositif diperiksa serta digolongkan sesuai dengan atau berdasarkan kebijaksanaan. Demi maksud itu maka kita mulai dulu dengan imperatif, sebagai bentuk imposisi yang paling langsung. Suatu impositif imperatif memang canggung atau tidak bijaksana dalam hal bahwa dia mengambil risiko sebagai ketidakpatuhan yang merupakan sejenis situasi konflik yang agak suram dan gawat.

E.   Skala Pragmatik
Terdapat tiga skala pragmatik yang menyangkut taraf kebijaksanaan yang sesuai dengan situasi ujaran, yaitu:
1.      Skala Untung Rugi                 : skala ini mempertimbangkan untung-rugi dari penawaran tindakan A bagi pembicara atau penyimak.
2.      Skala Kefakultatifan               : dimana ilikusi-ilokusi diurutkan sesuai dengan jumlah pilihan yang diizinkan oleh pembicara kepada penyimak.
3.      Skala Ketaklangsungan           : dimana dari sudut pandangan pembicara, ilokusi-ilokusi diurutkan berdasarkan panjangnya jarak yang menghubungkan tindak ilokusi dengan tujuan ilokusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar