tas
Home » » PG dan Implikasinya

PG dan Implikasinya

Written By Prito Windiarto on 21 September 2012 | 2:26 PM

PG dan Implikasinya

“Darul Huda Never Die!”
Tajuk itulah yang sejatinya secara tersirat dan tersurat ingin ditunjukan lewat pergelaran Panggung Gembira (PG) G-12 Azwanera (Sabtu, 15 September 2012). Darul Huda Takkan Pernah Mati! Kata-kata yang diucapakan sang ketua pelaksana, Fajar Fauzi Raharjo itu mengingatkan saya pada peristiwa Serangan Umur Satu Mare . Di mana pasukan TNI yang tersisa dibantu rakyat melakukan serangan mendadak ke jantung pertahanan tentara Belanda di Yogyakarta. Serangan umum yang dipimpin Jendral Soedirman ini memang hanya mampu menguasai Yogyakarta selama enam jam. Tapi sejarah mencatat serangan itu membawa dampak sistemik dalam percaturan politik kala itu. Bagi masyarakat Indonesia serangan itu memupuk kepercayaan diri yang sempat melemah bahwa bangsa Indonesia bisa. Bahwa Belanda ternyata masih mungkin untuk dikalahkan. Bagi Belanda serangan ini membuat mereka terhenyak kaget . Menyaksikan begitu sengitnya serangan mereka kembali memperhitungkan pasukan indonesia. Bagi Masyarakat internasional serangan itu menyadarkan mereka bahwa perjuangan Bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan takkan berakhir. Lewat wasilah “Serangan Umum Satu Maret” itulah kemudian dunia internasional kembali percaya Indonesia bisa mandiri dan menjadi bangsa berdaulat.
Begitu halnya dengan PG ini. Civitas Akademika Darul Huda (terkhusus Azwanera) ingin menunjukan pada dunia bahwa Darul Huda masih ada, dan takkan pernah mati. Darul Huda bisa. Darul huda siap bangkit lagi. Lewat PG ini mereka ingin menyumpal pesmisme, kritikan, lecehan, olokan dari orang-orang yang tak bertanggung-jawab. Untuk poin ini PG tampaknya sukses besar. Acara ini beroleh apresiasi yang luar biasa, baik dari alumni, asatidz, santri maupun warga sekitar.
Misi lainnya adalah ingin menyatukan kembali “Faksi-Faksi” akibat friksi (konflik) bertahun silam. Niatan ini pada beberapa sisi sukses. Indikatornya dengan terpilihnya ketua baru IKPPM (Ikatan Keluarga Besar Pondok Pesantren) Darul Huda, Diki Zoeliandy. Indikator lain, tampak bergaul-akrab nya lagi orang-orang yang selama ini mengalami friksi (atau minimal sensi). Namun pada satu sisi, misi ini belum sukses 100 persen. Sebabnya, Ishlah Akbar, belum terrealisasi. Petinggi Faksi belum berdamai. Masih ada yang mengganjal, masih ada luka yang belum dibalur. Ini PR besar bagi IKPPM tentu saja. Bagaimapun, luka harus dibalut selekasnya. Semoga saja nanti ada momen yang bisa menjahit luka mengangga itu.
Bagaimanapun, acara PG telah menerbitkan harapan baru. Menunjukan sebuah eksistensi. Menampakan kompetensi. Santri Bisa. Pada akhirnya, jika kepedihan itu belum bisa terbebat sempurna dalam waktu dekat, semoga guliran waktu akan menghapuskannya. Yang pasti kita patut berbangga atas prestasi ini. Esok lusa, para santri itu akan lulus, siap menebar kemanfaatan. Semoga pemahaman hidup yang baik akan membimbing selalu agar langkah beriring menujuNya.
tak boleh dilupakan, prestasi ini tidak boleh menjadi pemuas diri. Jangan menjadi puncak. Sebaliknya ini awalan menuju prestasi-prestasi berikutnya. InsyaAllah. Aamiin.
Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih atas pertunjukan hebat yang telah disuguhkan. Keep Spirit, Akhi wa Ukhti!



*Ciamis, 21 September 2012
Prito Windiarto, santri Arrahmaniyyah. Alumni PPM Darul Huda. Bergiat di www.pena-santri.blogspot.com
Share this article :

Cari Materi Pelajaran Lain

Mari Bergabung

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger