Cerita Silat : Jawara Luhur
Di sebuah bukit nan lebat rerimbun pohon : Kuta Agung. Tersebutlah sebuah perguruan beladiri: Jawara luhur. Dulu sekali, perguruan (padepokan) ini amat terkenal, paling tidak se-kerajaan Dayeuhluhur, namanya harum sampai kawedanan Majenang. Singkat cerita, karena fitnah dan hasutan dari salah satu perguruan silat lain (Bahwa Jawara luhur dijadikan ajang pelatihan para pendekar jahat -perampok, pembegal) perguruan ini perlahan memudar pesona, para murid perguruan keluar. Bahkan sampai pada titik menghawatirkan. Yang tersisa tinggal 1 suhu dan 3 murid amat belia. Yang lain berpencar ke perguruan sekitar.
Sang suhu, Rangga Aditura tak lantas putus asa atas kejadian itu. baginya kebenaran tak pernah tertukar, walau seluruh dunia menudingnya salah, jika yang ia lakukan adalah kebenaran ia tak gentar. Fitnah itu tak membuatnya berkesah.
3 Murid tersisa berlatih dengan keras, 4 tahun berlalu, mereka lulus.
Petambahan murid di jawara luhur amat lambat, setiap tahun hanya ada 2-4 orang pendaftar. Kontras dengan perguruan lain di bukit seberang. Perguruan Haur Bakti, setiap tahun menerima hampir 100 murid.
Tahun ke 7 setelah fitnah itu Jawara luhur masih sepi. Total murid yang lulus hanya 10 orang. Sebuah angka yang menggiriskan. Tahun ke-8 dilalui dengan keprihatinan. Bangunan padepokan mulai rapuh, atap alang-alang sudah lapuk. ketika hujan deras, semua basah. Tak tahan cuaca, beberapa murid perguruan sakit keras.
Tak itu saja, tak disangka, sepucut surat dari kerajaan datang. Senopati Anggara meminta padepokan ditutup. Bukan apa, Senopati hanya ingin menggerus kekhawatiran masyarakat, mereka resah mendengar perguruan "Jawara Luhur" masih beroperasi. Padahal, dedengkot perampok paling bengis -Kantra- adalah lulusan "Jawara Luhur".
KI Rangga Aditura bergeming. Ditemuinya senopati Anggara untuk klarifikasi.
"Memang benar, Kantra adalah alumni Jawala luhur. Namun kini status alumninya sudah dicabut. Ia sudah ditegur, diperingatkan, karena melanggar DwiPatra Jawara Luhur : Tulus mengabdi. Abadi pada kebajikan. Memimpin gerombolan perampok jelas-jela melanggar Dwi Patra!" Tegas KI Rangga Aditura.
"Iya. Bisa jadi memang demikian. Tapi tetap saja desas-desus di masyarakat, Jawara Luhur di balik makar itu!?"
"Aih... Aneh... tak ada alasan bagi kami berbuat demikian!"
"Sudahlah, pokoknya tutup padepokan ini. Begini Ki Rangga, kalau Aki mau menutup padepokan itu Kerajaan siap mengangkat Aki jadi dalem istana. Ganti rugi. Bahkan kami bantu membuat padepokan baru!"
"Hmmm... ini tak masuk akal. semua ini benar-benar aneh. Kalau alasannya membuat rakyat resah, kenapa kerajaan tidak menenangkan mereka dengan memberi penjelasan. Buru cecunguk-cecunguk itu. Jawara luhur tak ada setitikpun kaitan dengan mereka. Ecamkan itu!" Ki Rangga Aditura pluang dengan geram. Baginya alasan itu di luar nalar.
Tiba di padepokan ia sendu. Murid-murid yang sakit pulang. Memutuskan keluar. Tabib kampung yang dipaggil Ki rangga tak bisa mengobati mereka. Tinggalah satu murid saja, Aria Pinunggal.
Tapi kenyataan itu tak membuat Ki Rangga patah arang. Ia tetap semangat mengajar Aria Pinunggul. Setiap pagi, sedari kemeriap fajar, Aria pinunggul terus digembleng jurus-jurus. Dialatih gerakan-gerakan beladiri unggul. Siangnya Ki Ranga bekerja di ladang, megolah palawija.
Suatu pagi, seorang Dalem dari Kawedanan Majenang -Bramusti -datang. Ia hendak mendaftarkan putranya, Jambrana untuk masuk padepokan.
"Siapapun berhak masuk padepokan ini, tapi tentu harus melewati syarat. Syarat utamanya, ia nya sendirilah yang punya dorongan masuk padepokan, bukan yang lain. Baik... Jambrana, Kau siap masuk padepokan ini?"
Jambrana menggeleng. sedari tadi ia seperti tertekan.
"Ayolah Ki Rangga, mohon terima dia, dia sudah saya daftarkan di berbagai padepokan, tapi tak ada yang cocok dengannya, saya berharap ia mau berguru disini.'
"Diamlah, akan saya tanyai dulu ia. Jambrana, kalau kau dewasa, kau ingin jadi apa? Jadi Pendekar?" Ki rangga menghampiri Jambrana. Ia merungkut. Takut2 ia menjawab,
"Saya ingin jadi pedagang Ki, Jambrana tak suka berkelahi!"
"Jelas sudah ki sanak. Putramu tak menyukai dunia ini. Padahal ia adalah syarat mutlak masuk Jawara Luhur"
"Ayolah Ki, akan saya bayar berapapun yang aki Minta!"
"Tidak! Janga rusak masa depan anakmu ki sanak. Ia ingin jadi pedagang, Ajari ia berdagang! Lekas pergi"
"Akan saya beri 50 keping emas kalau aki menerima JAmbrana, ayolah!"
"Saya tak habis pikir, siapa sebenarnya yang mau berguru, kau atau anakmu, sudah. Lekas pergi!"
Sang Dalem pergi kecut.
Tahun kesepuluh, tak ada perubahan berarti. Pertambahan murid hanya 2-3 orang. Dobol-dobol atap sudah diperbaiki. Namun padepokan itu masih tetap kusam.Tak ada perbaikan.
Tahun itu, Aria Pinunggul dinyatakan lulus. Tidak seperti murid sebelumnya yang dimintanya menyebar ke berbagai daerah, Aria diminta Ki Rangga tinggal bersamanya. Menemaninya. Sekaligus dididiknya.
Tahun ke-12. Ki Rangga 70 tahun. Saat itu ia mulai rapuh. Angin segar berhembus. Kantra berhasil dibekuk. Lebih melegakan lagi ia mengakui hal sebenarnya. Sejatinya ia menjadi perampok atas bujukan Suhu Utama Haur Mukti. Dulu. Ia sangat iri melihat kemajuan Jawara Luhur. Ia berpikir keras untuk menjatuhkan Jawara Luhur. Fitnah itupun disebar. Ia memperalat -kantra- yang notabene alumni Jawara Luhur untuk menjelek-jelekan citra Jawara Luhur. Dengan iming-iming harta. dan itu berhasil selama 12 tahun. rahasia persekongkolan itu tertutp. Hingga akhirnya, Aria Pinunggul berhasil membekuk Kantra, dan memaksanya mengaku.
tahun itu juga beberapa alumni kembali. Beberapa diantaranya sudah menjadi pimpinan resimen di beberapa kadipaten. Mereka kembali untuk membangun jawara Luhur. Perlahan. Para alumni membawa ide segar perbaikan. Diantaranya manajemen keuangan dan manajemen Sumber daya. Beberapa suhu lain didatangkan. Ki Rangga meneima ide itu dengan terbuka.
Setahun berlalu. Ki Rangga Wafat. Ia tak sempat menyaksikan langsung pemugaran padepokan. Ia tak sempat melihat kembalinya jawara luhur menjadi Jawara dengan ratusan murid. Ia tak sempat melihatnya lewat pandanan mata. Namun ia merasakannya dari alam sana.
***
Tamat.
Maaf jika tulisannya terkesan garing, Ini cerita yang langsung diketik tanpa konsep matang, jadi mohon maklum jika ada yg ngawur. But... sejatinya saya menulis ini tidak hendak bercerita, saya ingin mengajak sahabatn sekalian untuk mengambil ceruk hikmah dari kisah ini.
1. Pertama tentang keteguhan, keistiqomahan. misal kita berorganisasi, Jumlah anggotanya amat sedikit, bisa jadi hanya satu dua orang. Semoga itu tak lantas menyurutkan langkah. terus saja berjalan, dengan segala kekurangan. Bisa jadi memang "Api" itu redup, tapi JANGAN PERNAH MEMBIARKANNYA MATI. Karena jika hanya meredup, esok lusa, bertahun kemudian, semoga saja ada bensin yang akan membesarkan "Kobaran api". Dalam cerita tadi, bensin itu alalah para alumni. Ketika ia dipercikan pada api "walau redup" ia kan memantik kobaran. Sebaliknya jika ia sedari awal sudah mati. Seberapa banyakpun bensin takan pernah bisa mengobarkannnya.
Karenanya, seberapa kecil pun organisasi yang kita bersamai, seberapa terseok-seokpun jalan yang ditempuh. JANGAN BIARKAN IA MATI. Biarkan ia hidup, seredup apapun, semoga nanti ada Bensin yang mengobarkannya.
2. Idealisme penting. Asas dasar tak boleh goyah oleh apapun. Seperti terlukis dalam kisah itu, ketika ki Rangga dihasut Senopati Anggara dan iming-iming Dalem Bramusti. hakikat inti -ruh- tak boleh goyah. Walau demikian modernisasi dan dinamisasi diperbolehkan, seperti tampak pada pembaharuan para alumni jawara luhur.
3. Pentingnya regenenasi. Penyebaran alumni. Biarkan mereka berkarya di bidang adapun yang mereka kuasai. Namun demikian ikat ia dengan simpul hakiki, ikatan ukhuwah, yang bisa jadi tak kasat mata namun terpatri di hati.
4. Bisa jadi kita tidak sempat melihat "kobaran api" besar itu. Kita tak mempermsalahkan itu. tugas utama Kita sekali lagi menjaga lestari "api" itu.
Semoga bermanfaat.
Afwan jika ada yang kurang berkenan.
Demikianlah Cerita Silat : Jawara Luhur
Blog berisi informasi seputar CPNS PPPK 2022. Materi pelajaran bahasa Indonesia, mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, ataupu MI, MTs, MA. Materi kuliah pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Sastra.
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
9.1.16
25.5.15
Tahapan Menulis Kreatif Puisi
Tahapan Menulis Kreatif Puisi
Prito Windiarto, S.Pd.
Aktivitas menulis
merupakan suatu pengejawantahan dari keterampilan berbahasa yang paling tinggi
setelah keterampilan menyimak, berbicara dan membaca. Menulis sebagaimana
diutarakan Semi (2007: 14) merupakan “Suatu proses kreatif memindahkan gagasan
dalam lambang-lambang tulisan.”
Kurniawan dan Sutardi
(2012: 39) mengungkapkan “Proses kreatif
menulis puisi terdiri atas empat tahap, yaitu, penentuan ide, pengendapan, penulisan,
serta editing dan revisi.” Empat proses tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut.
a. Pencarian Ide
Pada tahap ini penyair
mencari ide/insprirasi untuk puisi yang akan ditulisnya. Ide itu bisa berasal
dari pengalaman batin pribadi penulis seperti kegundahan, kekecewaan,
kebahagian, dan lain sebagainya. Bisa juga berasal dari pengalaman orang lain
atau berdasar peristiwa/kejadian yang menggugah, misal bencana alam. Salah satu
kiat untuk mendapatkan ide adalah dengan sering membaca buku, berjalan-jalan
melihat sekitar, menonton pertunjukan, drama, film, atau berdiskusi dengan
orang lain.
b. Pengendapan atau Perenungan
Langkah berikutnya
setelah ide didapatkan adalah dengan merenungkan atau mengendapkan ide
tersebut. Pengendapan ini penting agar ide itu benar-benar matang. Proses
pengendapan antara lain dilakukan dengan berkontemplasi dengan mengajukan
berbagai pertanyaan. Misal, hendak dibawa kemana ide ini? Bagaimana penyajian
kata-katanya? Bagaimana teknik penulisannya? Pertanyaan itu direnungkan
baik-baik dan dicari jawabanya oleh diri sendiri.
c. Penulisan
Apabila ide itu sudah
diendapkan maka saatnya dituliskan. Sebaiknya
tidak ditunda-tunda, tulis apa yang ada dalam benak, jangan dulu direvisi.
Biarkan tulisan itu mengalir. Jika buntu atau macet, maka berhentilah terlebih
dahulu, istirahatkan pikiran, cari kegiatan yang bisa membuat pikiran lebih
segar. Setelah pikiran segar, aktivitas menulis dilanjutkan.
d. Editing
dan Revisi
Apabila
sebuah puisi telah selesai ditulis, maka tahap berikutnya adalah melakukan editing
dan revisi. Baca ulang puisi yang dibuat. Editing
behubungan dengan aspek bahasa, dan
tata tulis, sedangkan revisi berkaitan
dengan isi dan substansi puisi.
Demikianlah Tahapan Menulis Kreatif Puisi, semoga bermanfaat.
2.4.15
Lihat Buku Elektronik (Ebook) Kumpulan Cerpen, Puisi, dan Motivasi
lihat Buku Elektronik (Ebook) Kumpulan Cerpen, Puisi,
dan Motivasi
Prito Windiarto
Pernyataan Resmi: Mohon Maaf untuk saat ini postingan ini tidak valid.
Bagi yang ingin mendapatkan buku elektronik berikut:
1.
Kumpulan
cerpen “Pohon Keberuntungan”
2.
Kumpulan
Puisi “Kepingan Kehidupan 1”
3.
Kumpulan
Puisi “Kepingan Kehidupan 2”
4.
Kutipan
Buku Motivasi “Jarrib, Dahsyatkan Diri Dengan Kekuatan Mencoba”
5.
Buku
Perjalanan “A Memorable Journey”
6.
Silabus
Menulis Fiksi
Cara gampang sekali;
1.
Tuliskan
alamat email di kolom komentar, boleh pilih semua atau beberapa, silakan pesan
saja mau e-book nomor berapa.
Berikut adalah sekilas tentang buku dan status lisensinya:
A.
Kumpulan
Cerpen “Pohon Keberuntungan”
Kumpulan cerpen ini menghadirkan 11 cerpen apik. 5 Cerpen berkisah
seputar kasih sayang dan cinta. Enam lainnya bercerita tentang warna warni hidup
dan kehidupan. Kisah-kisah sederhana namun memberi makna. Detail versi
cetaknya:
Judul: Pohon Keberuntungan
Penulis: Akhi Dirman Al-Amin, Prito Windiarto, dkk
Penerbit: Leutika Prio
Kategori : FIKSI
ISBN: 978-602-8597-89-0
Halaman : 100 BW
Harga buku: Rp. 27.700, ebook: gratis
Status lisensi: Buku ini lisensinya ditangan KPS (Komunitas Pena
Santri). Selaku Pimpinan umum KPS kami mempunyai lisensi untuk menyebarluaskan
versi ebooknya.
B.
Kumpulan
Puisi Kepingan Kehidupan 1
Merupakan buku kumpulan puisi terbaik Komunitas Pena Santri (KPS).
Berisi puluhan puisi yang memberikan pemaknaan akan hidup.
Detailnya:
Judul: Kepingan Kehidupan
Penulis: Prito Windiarto, Inung Imtigani, dkk
Penerbit: Hamasah
Harga: Rp. 35.000
Status lisensi: Buku ini lisensinya ditangan KPS (Komunitas Pena
Santri). Selaku Pimpinan umum KPS kami mempunyai lisensi untuk menyebarluaskan
versi ebooknya.
C.
Kumpulan
Puisi Kepingan Kehidupan 2
Merupakan kelanjutan dari buku pertama. Ragam tema yang dihadirkan
diharapkan mampu membawa pemaknaan hidup yang lebih baik.
Judul : Kepingan
Kehidupan 2
Penulis : Asqarini dkk
Tebal : 120 hal
Terbit : Agustus 2011
Harga : Rp. 35.000
Status lisensi: Buku ini lisensinya ditangan KPS (Komunitas Pena
Santri). Selaku Pimpinan umum KPS kami mempunyai lisensi untuk menyebarluaskan
versi ebooknya.
D.
Kutipan
Buku Jarrib
Merupakan kutipan kata-kata yang memotivasi pembaca untuk berani
mencoba. Berani memulai sesuatu. Detail tentang buku, sebagai berikut.
Judul : Jarrib! Dahsyatkan Diri dengan Kekuatan Mencoba
ISBN/EAN : 9786020245935 / 9786020245935
Pengarang : Prian Alfan
Penerbit : Quanta (ELEX MEDIA)
Terbit :13 Agustus 2014
Pages : 264
Berat : 250 gram
Dimensi(mm):140 x 210
Pemesanan buku versi cetak, sms 087826263364
Status lisensi: Kutipan Buku ini dibuat oleh Prito Windiarto (Prian
Alfan). Versi buku cetak, lisensi masih
berada di penerbit Quanta.
E.
A Memorable Journey
Penulis : Syifa Enwa,Okti Li , Nenny Makmun ,dkk
Editor : Ika Safitri
Desain isi : akh taufiq
Penerbit : Dar-Insyirah
Cetakan pertama : April 2012
ISBN : 978-602-19044-4-2
Buku ini mengisahkan kisah-kisah perjalanan para penulis. Setia
tempat punya makna yang membekas. Selain keindahan alam, juga rangkaian
peristiwa yang berkesan. Menambah keyakinan akan Ke-Mahaan Allah. Kisah
bertabur hikmah nan menggugah. Selain itu juga bisa menjadi semacam referensi
bagi pembaca yang ingin mengunjungi daerah tertentu.
Status lisensi: Buku ini lisensinya ditangan KPS (Komunitas Pena
Santri). Selaku Pimpinan umum KPS kami mempunyai lisensi untuk menyebarluaskan
versi ebooknya.
F.
Silabus
Menulis Fiksi
E-book ini dibuat oleh CEO Diva Press, Edi Mulyono. Versi cetaknya
dapat dipesan via penerbit. Buku ini berisi silabus menulis fiksi (cerpen,
novel, dll). Ditulis dengan gaya yang mudah dipahami dan dipraktikan.
Status lisensi: Buku ini lisensinya ditangan Pak Edi Mulyono (CEO
Diva Press), beberapa waktu lalu saya sempat meminta izin menyebarkan e-book
buku ini dan diizinkan.
Baiklah, demikianlah sekilas buku-buku tersebut.
Sekali lagi caara mendapatkannya sekali lagi mudah saja, silakan
tulis alamat email sahabat di kolom komentar. Mudah bukan?
Mari Lihat Buku Elektronik (Ebook) Kumpulan Cerpen, Puisi,
dan Motivasi
29.9.14
Kuis Jarribbukuku
Kuis Jarribbukuku
Ikuti Quiznya JARRIB!
Caranya gampang banget. Ikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Upload foto selfie kamu dengan buku JARRIB! terbitan Quanta ke twitter, FB, Path atau Instagram
2. Sertakan caption yang kamu sukai dari buku JARRIB!
3. Gunakan hashtag #JarribBukuku
4. Follow dan mention hashtag di atas ke Twitter @Quantabooks dan FB: @QuantaEmk dengan menyertakan tautan foto selfiemu
5. Mention atau tag 5 teman kamu untuk follow social media: @QuantaBooks dan FB; @QuantaEmk
Ada Hadiah Menarik untuk 5 Pemenang
- Voucher Toko Buku Gramedia senilai:
Rp100.000 (untuk 3 pemenang terbaik)
Rp50.000 (2 pemenang lainnya)
- Hadiah buku seharga Rp200.000 (pilihan penerbit)
Periode:
20 Agustus - 31 Oktober 2014
Buruan sebelum terlambat!
Contoh fotonya, bisa dilihat di
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10201774915133271&set=a.1812365847588.73846.1793283550&type=1&theater
Yang mau pesan online bukunya plus tanda tangan penulis dan stiker, harga 57 ribu, belum termasuk ongkir, sila sms, pesan Jarrib ke 087826263364
Ada juga novel "Tiga Matahari" harga 30.000. Plus tanda tangan dan stiker. Belum termasuk ongkir. Berminat? Sms nomor di atas...
17.8.13
ESAI SASTRA Puisi, Curahan Hati?
ESAI SASTRA
Puisi, Curahan Hati?
Puisi, Curahan Hati?
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kritik & Esai
Disusun oleh :
3F
Prito Windiarto
Intan Nur Pratiwi
Chaerunisa
Daryanto
M. Bahaudin Toqota
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH
2012
Puisi, Curahan Hati?
Kenang
Pipit Taufik
Haruskah ku tanpamu?
Haruskah ku sendiri?
Tak sanggup aku menahan rindu ini
Tak sangggup aku menahan air mata ini
Semua kenangan kita, yang telah kita lalui
Semua air mata yang telah kita alami
Hilang sudah tak kembali
Kumohon kenanglah aku
Walaupun diriku telah menyakitimu
Kumohon berjanjilah padaku
Tak seindah bersamaku, saat kau telah memilikinya
(Pipit Taufik, Kumpulan Puisi Lagu Rindu, 2010)
![]() |
| Esai Sastra |
Puisi ini lebih cenderung berbentuk curahan hati penyair. Berisi luapan emosional atas kepedihan yang menghampirinya. Penyair menuangkan gagasan dalam puisinya hanyalah berupa luapan ekspresional perasaan. Puisi ini seolah diciptakan hanya untuk dirinya sendiri, sehingga rasa ‘kepemilikan’ pembaca kurang terakomodir. Kami selaku pembaca seperti tidak diizinkan ikut merasakan apa yang dirasakan penyair. Tak tampak proses perenungan mendalam dalam penciptaan puisi ini. Indikatornya, terlihat dari segi bahasa yang digunakan tidak terlalu mendalam. Makna dan amanat terkesan dangkal.
Pada sisi perasaan, penyair tampak tidak konsisten. Pada satu sisi ia menyakiti kekasihnya, pada sisi lainnya ia justru menyesali keputusannya itu.
Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang sekarang sedang gencar digalakan, puisi ini tampaknya kurang cocok digunakan sebagai bahan ajar apresiasi sastra di sekolah. Puisi ini kurang menunjukan pesan moral yang baik. Dari segi pengunaan bahasa puisi ini tidak terlalu memperlihatkan diksi yang mantap. Tidak banyak metafor atau majas-majas lain yang mempercantik tampilan puisi. Bahkan dalam puisi tersebut terdapat konteks yang maknanya kami rasa kurang jelas. Simak kutipan berikut: “Kumohon berjanjilah padaku/Tak seindah dulu, saat kau telah memilikinya”
Secara umum, puisi ini termasuk baik jika dilihat dalam pengertian bahwa puisi adalah sebuah karya yang merupakan ekspresi penyair terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Namun sebaliknya jika dilihat dari sisi bahwa pembelajaran sastra (termasuk puisi) bertujuan untuk memperhalus budi pekerti siswa, juga sebagai bagian dari pembentukan karakter, maka puisi “kangen” ini kurang cocok digunakan sebagai bahan ajar. Pendapat ini diambil berdasar telaah isi dan telaah bahasa.
Dari telaah bahasa kita mendapati puisi ini tidak menggunakan permainan diksi ciamik. Begitu halnya penggunaan majas-majas penghias yang minim. Dari telaah isi kita mendapati, puisi ini bertema percintaan, patah hati. Lebih berbentuk curahan hati pribadi, tanpa keterlibatan pembaca secara intents. Dari segi isi, pesan moral dan amanat yang disampaikan tidak terlalu banyak, bahkan terlihat inkonsistensi sikap dalam diri penyair itu sendiri.
Sejatinya, menurut hemat kami tidak menjadi soal ketika penyair menulis puisi yang mencerminkan curahan hatinya. Namum alangkah lebih elok jika curahan itu melewati proses kontemplasi yang dalam, sehingga pembaca memperoleh hikmah dari apa yang diungkapkan penyair. Selain itu yang tak boleh dilupakan adalah pemilihan diksi yang apik akan memberikan sensasi yang unik. Pada akhirnya puisi curahan hati yang melewati proses perenungan yang mendalam dan pemilihan diksi yang baiklah yang akan memberikan energi dan imaji kuat di benak pembacanya (penikmat sastra).Demikanlah ESAI SASTRA : Puisi, Curahan Hati?
19.4.13
Kumpulan Kata Bijak dari Buku Tere Liye
Gambar ini dikreasi tim Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Silakan copas bin share. Semoga berkenan.
![]() |
| Tere Liye |
![]() |
| Kata Bijak Tere Liye |
![]() |
| Kata Bijak dari buku Tere Liye |
![]() |
| Novel Tere Liye |
![]() |
| Kutipan Buku Darwis tere liye |
Semoga bermanfaat.
Salam hangat, Prito Windiarto, penulis novel Tiga Matahari, Fb : Prito Windiarto, Twitter @pritowindiarto
Demikianlah Kumpulan Kata Bijak dari Buku Tere Liye17.4.13
Kumpulan Gambar Berisi Kata-kata Bijak 1
15.4.13
Karena Hidup, maka....
Karena
langit tak selamanya cerah.
Karena Hidup, maka....
Karena mentari tak selamanya bersinar terang.
Karena
bulan tak selamanya purnama.
Karena dunia tak abadi, fana semata.
Maka,
perubahan adalah kepastian.
Pergerakan adalah keharusan.
Pengembangan adalah
kemestian.
Jangan pernah takut untuk berubah!
Jangan pernah takut untuk
bergerak!
Jangan pernah takut untuk berkembang!
Karena jalan tak selamanya lurus
lempang.
Karena roda selalu berputar.
Kadang diatas, kadang di bawah.
Maka
jangan takut untuk berkarya.
Jangan takut hasilnya tidak diterima.
Karena salah
adalah lumrah.
Kekeliruan bisa ditoleran.
Teruslah maju! Karena hidup, maka. .
. . . . . . . . berkaryalah.
Prito Windiarto: 010308€180709
Twitter: @pritowindiarto
31.3.13
Penerbit Dar Insyirah
Penerbit Dar Insyirah
Ingin nerbitin buku, cerpen, atau novel sendiri tapi dana terbatas?? Caranya gampang. Mungkin kami bisa sedikit membantu. Anda bisa kirim naskah ke kita. Boleh PDF, Word atau yang lain asal jangan tulisan tangan lho:-) .
Tenang aja, DESAIN COVER DAN LAYOUT GRATIS!!!
info lengkapnya bisa hubungi Mas Allan (085784542225) atau naskah bisa langsung dikirim ke ahmad_allan25@yahoo.com contoh buku, desain bisa di lihat di sini
http://dar-inshirah.blogspot.com/2012/06/antara-game-dan-gama.html
ORDER BISA SMS
selamat berkarya
Ingin nerbitin buku, cerpen, atau novel sendiri tapi dana terbatas?? Caranya gampang. Mungkin kami bisa sedikit membantu. Anda bisa kirim naskah ke kita. Boleh PDF, Word atau yang lain asal jangan tulisan tangan lho:-) .
Tenang aja, DESAIN COVER DAN LAYOUT GRATIS!!!
info lengkapnya bisa hubungi Mas Allan (085784542225) atau naskah bisa langsung dikirim ke ahmad_allan25@yahoo.com contoh buku, desain bisa di lihat di sini
http://dar-inshirah.blogspot.com/2012/06/antara-game-dan-gama.html
ORDER BISA SMS
selamat berkarya
24.3.13
Surat dahlan
Assalamu
‘alaikum Wr. Wb.
Surat dahlan
Dear
Pak Dahlan.
Perkenalkan,
saya Prito, seorang santri dari Ciamis. Apa kabar Pak? Semoga sehat selalu.
Ditengah berbagai kesibukanmu, semoga
Allah mudahkan segenap urusan kebaikan.
Pak
Dahlan. Tak banyak yang akan saya sampaikan dalam surat ini. Pada kesempatan
ini . izinkan saya mengucapkan terima kasih atas banyak hal.
Bapaklah,
salah seorang yang membuat saya bangga menjadi santri. Bapak yang menunjukan bahwa santri-pun
bisa. Dulu, awal-awal masuk pesantren saya merasa minder. Apakah santri bisa
jadi “orang”? Apakah santri bisa bersaing dengan lulusan sekolah umum? Ternyata
bisa! Bapak menunjukan itu dengan elegan.
Pertama
kali saya “mengenal” bapak ketika masih menjadi pemimpin Grup Jawa Pos. Ketika itu saya membaca profil bapak, di sana
disebutkan bahwa bapak, dulunya, adalah seorang santri. Hebat sekali, dari
santri bisa menjadi pemimpin perusahaan besar.
“Wah, Pak Dahlan juga bisa, kenapa saya tidak?” Pikir saya waktu itu.
Selanjutnya,
perihal teladan kesederhanaan yang diberikan. Walau sudah menjadi “pejabat”,
bapak tetap “merakyat”. Gaya bapak memimpin yang tidak ribet dalam birokrasi
kiranya bisa menjadi contoh bagi yang lain. Bahwa “pejabat” itu melayani, bulan
dilayani.
Terakhir,
dalam surat ini. Saya berdoa, semoga bapak tetap istiqomah di jalan kebaikan, kesederhanaan dan keberanian.
Selalulah menjadi pribadi yang menginspirasi.
Biarkan
sejarah mencatat dengan tinta emas segala pengabdian tulusmu. Dan semoga saya
bisa menyusulmu, atau bahkan melebihimu.
Wassalamu ‘alaikum Wr.
Wb.
Salam
hangat,
Prito
Windiarto
Langganan:
Postingan (Atom)










