tas
Home » » Perihal Cinta 3 : Hati dan Perasaaan

Perihal Cinta 3 : Hati dan Perasaaan

Written By Prito Windiarto on 12 November 2012 | 12:15 PM


Perihal Cinta 3 : Hati dan Perasaaan

"Kitalah yg mengendalikan hati dan perasaan kita. Jangan dibalik, hidup kita yg dikendalikan hati dan perasaan. Bisa berbahaya. Dan lebih celaka lagi, kalau hidup kita dikendalikan seseorang yg bukan siapa2, hanya karena kita menambatkan ilusi pengharapan/rindu padanya.

Berapa banyak air mata yang sudah kita tumpahkan untuk seseorang, benda, atau sesuatu di atas dunia ini? Dan berapa banyak lagi yang akan kita tumpahkan esok lusa?

My dear anggota page. Bukankah kalimat itu nyata? "Seseorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis), maka Allah akan menolongnya saat tidak ada lagi pertolongan yg tersisa kecuali
pertolonganNya." 

Lantas, setelah mengetahui kalimat ini, apakah kita masih memilih menangis ber-ember-ember untuk seseorang, yang jangankan ngasih pertolongan, boleh jadi dia nyadar juga nggak, tahu juga nggak kita sedang menangis untuknya.
 

Ayo, lebih baik kita menangis untuk yang maha mendengar. Janji itu valid, pasti terbukti. Janji itu sungguh hebat, pertolongan saat tidak ada lagi yang bisa menolong. Allah sungguh tahu kita menangis untukNya atau bukan. Maka jangan sia-siakan air mata kita.

*Tere-Liye


"Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu selalu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian yang menyakitkan itulah yang abadi."


“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso.” 

― Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah


“Biarkan semua mengalir bagai Sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan.”

--Tere Liye, novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah"

Semua Qouets disalin dari FanPage Bang Darwis Tere Liye : https://www.facebook.com/darwistereliye?fref=ts
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger