tas
Home » , , , » Wasiat Guru untuk Murid

Wasiat Guru untuk Murid

Written By Prito Windiarto on 24 April 2015 | 6:17 AM


Wasiat Guru untuk Murid

Prito Windiarto, S.Pd.

Selayak orang tua, guru juga selazimnya memberikan wejangan pada muridnya. Kalau untuk siswa  kelas 6, 9, 12, bolehlah disebut sebagai wasiat. Karena mereka sebentar lagi akan meninggalkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi.
Berikut adalah wasiat guru untuk murid yang merupakan kelanjutan dari, silakan klik: nasihat guru untuk murid, nasehat guru untuk murid, nasihat guru kepada murid.

9. You Are, What You Think
Kamu, adalah apa yang kamu pikirkan.  Wasiat ini bersandar pada nasihat orang-orang bijak. Apabila kita berpikir kecil, pendek, itulah yang akan didapat. Sementara jika kita berpikir besar, insyaAllah, itulah yang akan diraih. Jika kita berpikir tidak bisa, maka bisa jadi itulah yang terjadi. Sebaliknya jika kita berpikir mampu, insyaAllah kita memang mampu.
Pepatah  bijak mengatakan, perkataan adalah doa, termasuk bisa jadi pikiran. Apa yang kita pikirkan, jika itu kebaikan, semoga diaminkan malaikat dan dikabulkanNya. Karena itu, mari murid-muridku berpikirlah besar. Berpikirlah untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan terutama agama. Jangan berpikir kerdil. Orang bijak menasihati, jika kita berpikir kecil, maka kita akan disibukan dengan hal-hal kecil (sepele).

10. Bermimpilah yang Tinggi
Anak-anakku sekalian. Kalau kata Nidji, mimpi adalah kunci, kunci untuk taklukan dunia, jua akhirat sebenarnya. Mimpi yang dimaksud bukan mimpi dalam tidur, namun cita-cita. Bercita-citalah setinggi langit (bintang) nasihat Ir. Soekarno. Bermimpilah, karena Tuhan kan memeluk mimpi-mimpi itu, ujar Andrea Hirata. Bermimpilah, karena sungguh Allah Mahamendengar  impian itu, kata Ahmad Fuadi.
Bermimpilah yang tinggi, Rasulullah SAW. menasihati, mintalah surga firdaus (surga tertinggi, termegah). Ya, kita dianjurkan memohon dan berusaha menggapai yang paling mewah, bukan emperannya. Begitu halnya dalam bercita-cita hal dunia, bermimpilah yang tinggi. Misal ingin jadi Direktur Utama, punya perusahaan bonafite, berkeliling dunia dll. Jangan hanya bercita-cita menjadi tukang parkir, pengamen, tukang sampah, dll.
Begini logikanya, jika kita bermimpi besar, kita akan termotivasi berbuat hal yang besar. Jika bercita-cita jadi menteri pendidikan, paling tidak kita harus berusaha berbuat, menapaki jejak seperti menteri, belajar dengan rajin, membaca dan menambah pengetahuan dengan intens, dll. Sebaliknya kalau hanya bermimpi menjadi tukang parkir, ya tidak ada gairah untuk belajar lebih rajin. Buat apa belajar dengan sunguh-sunguh?
Logika berikutnya, jika kita bercita-cita besar, jikapun tidak tercapai seluruhnya, paling tidak semoga setengahnya. Misal belum berhasil jadi presiden, minimal jadi menterinya, atau staf ahlinya. Kalaupun tidak menjadi Direktur Utama di perusahaan, ya paling tidak jadi General Manajer, dll. Sebaliknya kalau kita bercita-cita dangkal jadi tukang parkir, kalau tidak tercapai, bisa jadi kita hanya jadi kuli kasar, atau bahkan mungkin peminta-minta. Karena itu, mari bermimpi dan bercita-cita yang tinggi. Kita berusaha mewujudkan, tidak lupa memohon padaNya. Yang Mahakuasa yang kan kabulkan. InsyaAllah.

Wallahu a’lam bishowab.
Demikianlah wasiat guru untuk murid kali ini, disambung serial nasihat guru untuk murid berikutnya, InsyaAllah.

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger