tas
Home » » RPP Berkaraker Kelas XII

RPP Berkaraker Kelas XII

Written By Prito Windiarto on 13 February 2013 | 11:47 AM






RPP Berkaraker Kelas XII 

Berikut ini adalah RPP Berkarakter Kelas XII Bagian 2, materi SK ke-4 sampai 5. RPP ini disusun oleh Tim Mahasiswa PPL Universitas Galuh Ciamis Kelas XII SMAN I Baregbeg tahun akademik 2012-2013
Kami memperbolehkan Copy-paste dengan syarat mencantumkan sumber : www.pritowindiarto.blogspot.com
Jika ada komplain silakan email ke pritowindiarto2@gmail.com
Nantikan bagian berikutnya




Tim PPL SMA I Baregbeg
Prito Windiarto, Ima Nur ma'sumah, Ida Rosdiana, Kurniawan, Meida Wibawa Raya, Tatang Tahyudin, Lena Sri Wahyuni, Iman Budiyansyah, Intan Nur Pratiwi, Muhhammad Rizky H, Ramdani Kendarsyah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

A. INDENTITAS
    Nama Sekolah                   : SMA N 1 Baregbeg
    Mata Pelajaran                   : Bahasa dan Sastra Indonesia
    Kelas / Semester                : XII / 1
    Alokasi Waktu                   : 1 X pertemuan ( 2 X 45 menit )
    Aspek                                : Menulis

B. STANDAR KOMPENTENSI
    4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk surat dinas, laporan, dan resensi

C. KOMPETENSI DASAR
     4.1 Menulis surat lamaran kerja berdasarkan unsur–unsur dan struktur yang   
        baku

D. INDIKATOR
 1. Mengindetifikasi unsur – unsur dalam surat lamaran pekerjaan
 2. Menyusun surat lamaran pekerjaan
 3.Memperbaiki surat dari segi struktur, diksi, kejelasan kalimat, dan
penggunaan  EYD

E. TUJUAN PEMBELAJARAN
1.      Siswa dapat mengindetifikasikan unsur – unsur surat lamaran pekerjaan
2.      Siswa dapat menyusun surat lamaran pekerjaan
3. Siswa dapat memperbaiki surat dari segi struktur, diksi. kejelasan kalimat, dan penggunaan EYD.

F. KARAKTER YANG DIHARAPKAN
       Dapat dipercaya (trustworthiness)
       Rasa hormat dan perhatian (respect)
     Tekun (diligence)
     Tanggung jawab (responsibility)

G. DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN
     Contoh surat lamaran
                                                                                                       Bandung, 31 Juli 2010
Kepada Yth.
Bapak/Ibu HRD Manager
 PT. Bank Danamon, Tbk
  di
    tempat

Dengan Hormat,
Berdasarkan informasi lowongan kerja yang tertera pada halaman website di       http://lowongankerjao.com/content/view/979/1/, dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini :
nama                               : Imam R. Abdillah, S.T.
umur                               : 25 tahun
pendidikan terakhir        : S1 Jurusan Teknik Informatika, STMIK JABAR, Bandung.
Bermaksud mengajukan permohonan untuk bekerja pada perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin.
Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan Daftar Riwayat Hidup, Ijazah, Sertifikat Pendukung, KTP dan lain-lain menyusul apabila dibutuhkan.
Besar harapan saya agar dapat bergabung pada perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
                                                                                                                      Hormat Saya,

 Imam Abdillah, S.T.
* Unsur – unsur surat lamaran  pekerjaan.
           1. Tempat dan tanggal penulis surat
           2. Pokok surat
           3. Alamat surat yang dituju.
           4. Salam pembuka
           5. Isi surat (pembuka, isi, penutup )
           6. Salam penutup
           7. Tanda tangan
           8. Nama jelas.

H. STRATEGI PEMBELAJARAN
1.      Model Pembelajaran             : Comunicative learning
2.      Pendekatan                           :  4 pilar pembelajaran
3.      Metode Pembelajran            : Parafrase

I.         LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
A.    Kegiatan Awal
Apresepsi :
          - Mengucapkan salam
          - Menyiapkan perserta didik psikis dan fisik untuk mengikuti proses
            pembelajaran.
Motivasi :
- Mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
             sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
 - Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan
            dicapai.

B.  Kegiatan inti
           a. Eksplorasi
           Dalam kegiatan eksplorasi, guru :
            -Menyusun perserta didik mencari informasi yang luas dan dalam
              tentang tema materi yang akan dipelajari
           -Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media
             pembelajaran dan sumber belajar lain
  -Melibatkan perserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.

b. Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru :
          -Guru membagikan contoh surat lamaran pekerjaan, siswa
     melakukan analisis.
          -Siswa dibimbing guru menyebutkan unsur–unsur surat lamaran perkerjaan
          -Siswa menulis surat lamaran perkerjaan berdasarkan unusur- unsur dan struktur lamaran perkerjaan
         -Hasil tulisan siswa diperiksa dengan saling menukarkan keteman    sebelah
         -Siswa memberikan penilain, masukan, dan perbaikan atas tulisan
               temannya.

c. Konfirmasi
             Dalam kegiatan konfirmasi, guru :
             -Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,
               tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan perserta
               didik ;
             -Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksporasi dan elaborasi
               perserta didik melalui berbagai sumber.

C. Kegiatan Akhir
         ~ Mempelajari materi kebahasaan, kemudian mengerjakan latihan bersama – sama dengan perserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran ;
         ~ melakukan penilain dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
            dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
         ~ memberikan umpan balik terhadap proses hasil pembelajaran;
         ~merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran
remidi, program pengajaran, layanan konseling dan/atau memberikan
 tugas baik, tugas individual maupun kelompok sesuai dengan belajar
 perserta didik ;
        ~menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya

J. SUMBER/BAHAN/ALAT
1.      Sumber Buku
Judul buku      : Piawai Berbahasa Cakap Bersastra Indonesia
Pengarang       : Sunardi, Suharto
Penerbit           : Pusat pembukuan nasional
Tahun               : 2009

 2. Alat bantu    : Contoh surat lamaran perkerjaan
 3. Media          : Naskah surat lamaran perkerjaan


K. PENILAIAN
       1. Teknik                        : Tes tulis
       2. Bentuk Insturmen      : Uraian Bebas
       3. Kisi-kisi

Indikator Pencapaian Kompentensi
Penilaian
Teknik
Bentuk
1.      Mengindetifikasi unsur – unsur dalam surat lamaran pekerjaan

2. Menyusun surat lamaran pekerjaan

3. Memperbaiki surat dari segi struktur, diksi, kejelasan kalimat, dan penggunaan EYD
           Tulis


          Tulis


         Tulis
       Uraian bebas


      Uraian bebas


      Uraian bebas


       4. Instrumen
Lampiran         : Lima Lembar                                                 Ciamis, 15 September 2012
Perihal             : Lamaran Pekerjaan                                                             

Yth.
Bapak Pimpinan PT Anak Emas
Jalan Pendakian Awal nomor 20
Jakarta Utara

Dengan hormat,
Berdasarkan iklan di Harian Republika tanggal 12 September  2012,  PT Anak Emas membutuhkan seorang Manajer Pemasaran. Sesuai dengan bidang pekerjaan tersebut dengan ini saya,
nama                               :  Prian Widianto
tempat, tanggal lahir      :  Cilacap, 16 Juni 1980
pendidikan terakhir        :  S3 Ekonomi
alamat                             :  Jalan Asrama Tribrata nomor 12, Kel. Mekarjiwa, Kecamatan
                                       Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
mengajukan lamaran kepada Bapak untuk menjadi Manajer Pemasaran di perusahaan yang Bapak pimpin. Adapun kualifikasi yang saya miliki sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
Bersama ini saya lampirkan:
1.  fotokopi ijazah terakhir
2.  fotokopi surat keterangan pengalaman kerja
3.  fotokopi KTP
4.  pasfoto terbaru
Demikianlah lamaran ini saya ajukan dengan harapan akan Bapak terima. Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih.
                                                                           Hormat saya,

                                                                           Prian Widianto
Bentuk Soal :
   1. Susunlah surat lamaran perkerjaan berdasarkan iklan disurat kabar
     dengan memperhatikan unsur – unsur dan  struktur yang tepat!
   2. Koreksilah surat lamaran temanmu dengan memperhatikan kesesuian
      unsur-unsur, struktur, dan bahasa surat!

Jawaban :
1.      Contoh surat lamaran pekerjaan ada pada instrument di atas
2.      Hasil koreksi siswa

Penskoran

No.
Nama
Kelengkapan unsur
Penggunaan bahasa yang tepat
Kesesuaian dengan EYD






Rentang skor 10-90


Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis, Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

 A. INDENTITAS
    Nama Sekolah                     : SMA N 1 Baregbeg
    Mata Pelajaran                    : Bahasa dan Sastra Indonesia
    Kelas / Semester                  : XII / 1
    Alokasi Waktu                    : 1 X pertemuan ( 2 X 45 menit )
    Aspek                                  : Menulis

B. STANDAR KOMPENTENSI
    4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk surat dinas, laporan, dan resensi.

C. KOMPETENSI DASAR
   4.2 Menulis surat dinas berdasarkan isi, bahasa, dan format

D. INDIKATOR
1.      Mengindentifikasi struktur surat dinas
2.      Menentukan komponen–komponen surat undangan rapat
3.      Menulis surat undangan rapat
4.      Menyunting surat undangan dengan memperhatikan penggunaan EYD, diksi, dan bahasa.

 E. TUJUAN PEMBELAJARAN
       1. Siswa dapat mengindetifikasikan struktur surat dinas
       2. Siswa dapat menentukan komponen – komponen surat undangan rapat
       3. Siswa dapat menulis surat undangan rapat
       4. Siswa dapat menyunting surat undangan dengan memperhatikan penggunaan EYD, diksi, dan bahasa.

F. KARAKTER YANG DIHARAPKAN
 Dapat dipercaya (trustworthiness)
            Rasa hormat dan perhatian (respect)
            Tanggung jawab (responsibility)

 G. DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN    
    Contoh surat dinas
v  * Unsur–Unsur Surat Dinas
1.   Kepala surat ;
2.      Tanggal surat ;
3.      Nomor Surat ;
4.      Lampiran surat ;
5.      Hal surat ;
6.      Alamat tujuan ;
7.      Salam pembuka ;
8.      Isi surat ( pembuka, isi, penutup ) ;
9.      Salam penutup ;
10.  Pengiriman surat ;
11.  Tembusan surat ;
12.  Insial

H . STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran   : Comunicative learning
2. Pendekatan                  : 4 pilar pembelajaran
3. Metode pembelajaran : Kunjung Karya


J. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
A.    Kegiatan Awal
Apresepsi :
          - Mengucapkan salam
          - Menyiapkan perserta didik psikis dan fisik untuk mengikuti proses
            pembelajaran.
Motivasi :
          -Mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
      sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari
          -Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan
            dicapai.

B. Kegiatan inti
 a. Eksplorasi
           Dalam kegiatan eksplorasi, guru :
            - Menyusun perserta didik mencari informasi yang luas dan dalam
              tentang tema materi yang akan dipelajari
            - Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain.
            - Melibatkan perserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan
              pembelajaran.
b. Elaborasi
              Dalam kegiatan elaborasi, guru :
-Guru membentuk kelompok siswa yang terdidi dari 4-5 orang.
 Meminta masing-masing kelompok memberi nama yang menarik.
-Guru menugaskan masing-masing kelompok menulis surat undangan               rapat dengan sistematika dan bahasa yang efektif  dikertas kerja  masing-masing kelompok mendapat tugas dengan topic yang berbeda
                      Contoh :
Kelompok 1. Surat Undangan Rapat Osis
                     2. Surat Undangan Rapat Pramuka.
                     3. Surat Undangan Rapat Karang Taruna
                     4. Surat Undangan Rapat IRMA

    -Setelah waktu yang ditentukan untuk mengerjakan tugas, guru meminta hasil kerja kelompok dianalisis dan dinilai oleh kelompok lain. Hasil karya diputar searah jarum jam. Hasil kelompok 1 dinilaioleh kelompok 2. Kelompok 2 kekelompok 3, dan seterusnya
 -Berikutnya hasil karya berputar lagi. Setiap kelompok menilai semua hasil kerja kelompok lain.Contoh kelompok 1 harus menilai kelompok 2, 3, dan 4


  -Setelah semua hasil karya dinilai,guru meminta masing-masing kelompok memajang hasil karya di dinding kelas
 - Guru dan siswa mengoreksi dan mengomentari hasil karya masing-masing kelompok.

c. Konfirmasi
  Dalam kegiatan konfirmasi, guru :
   -Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,               tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan perserta didik.      
 -Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksporasi dan elaborasi perserta didik melalui berbagai sumber.

 C. Kegiatan Akhir
         ~ Mempelajari materi kebahasaan, kemudian mengerjakan latihan
         ~ bersama–sama dengan perserta didik dan / atau sendiri membuat
            rangkuman/simpulan pelajaran ;
         ~ melakukan penilain dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
            dilaksanakan secara konsisten dan terprogram ;
         ~ memberikan umpan balik terhadap proses hasil pembelajaran ;
         ~ merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi,program pengajaran, layanan konseling dan/atau memberikan
tugas baik, tugas individual maupun kelompok sesuai dengan belajar
perserta didik ;
      ~ menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.


I.  SUMBER/BAHAN/ALAT
1.      Sumber buku
       Judul buku                 : Modul Bahasa Indonesia
       Pengarang                  : Tim Edukatif
       Penerbit                      : CV. Hayati Tumbuh Subur
2.   Alat Bantu               : Surat Dinas
3.    Media                      : Contoh surat dinas

J. PENILAIAN
       1. Teknik                        : Lisan dan Tulisan
       2. Bentuk Insturmen       :Uraian Bebas
       3. Kisi – kisi

Indikator Pencapaian Kompentensi
Penilaian
Teknik
Bentuk
1.      Mengindentifikasi struktur surat dinas

2. Menentukan komponen – komponen surat undangan rapat

3. Menulis surat undangan rapat

 4. Menyunting surat undangan dengan memperhatikan penggunaan EYD, diksi, dan bahasa.

           Tulis


          Tulis


         Tulis

Tulis

       Uraian bebas


      Uraian bebas


      Tagihan Karya


Obeservasi

4. Instrumen
Bentuk Soal :
A. Lisan
    1. Bacalah contoh surat dinas !
    2. Indentifikasikanlah struktur surat dinas!
    3. Tentukanlah komponen – komponen surat!

B. Tertulis
   1. Tulislah surat undangan rapat!
   2. Suntinglah surat undangan rapat!

Jawaban :
A.    Observasi
B.     1.

SMA NEGERI 23 LAMBUNG MANGKURAT
ORGANISASI SISWA INTRASEKOLAH (OSIS)
Jalan Tumenggung Ranu 45, Lambung Mangkurat,
Telepon (0212) 461175, Faksimile (0212) 445654
 

Nomor             : 12/OSIS/e/I/2012                  lambung mangkurat, 15 januari 2012
Lampiran         : Satu Lembar
Hal                  : Undangan

Yth. Kepala SMA Bakti Bangsa
u.p. Ketua OSIS
Jalan Kenanga No. 87
Kemalangin

Dengan hormat,
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun SMA Negeri 23 Lambung Mangkurat, kami merencanakan menyelenggarakan seminar kesehatan reproduksi. Untuk itu, kami mengundang pengurus OSIS SMA Bakti Bangsa untuk menghadiri acara tersebut.
Adapun penyelenggaraannya akan diselenggarakan pada:
hari, tanggal    :  Sabtu, 19 Januari 2012
waktu              : pukul 07.30 s.d 13.00 WIB
tempat             : Aula satu SMA Negeri 23 Lambung Mangkurat
Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara kami ucapkan terima kasih.



                
Mengetahui,
Kepala Sekolah,


Drs. Tasman Hutasoit, M.Pd.
NIP 131142574
Hormat kami,
Ketua OSIS,


Gunarso Ikman


Tembusan:
1. Kepala Dinas Pendidikan Kab. Lambung Mangkurat
2. Arsip
2. Observasi siswa terhadap kesalahan penulisan surat dinas
Contoh pada surat dinas di atas, nama daerah dan nama bulan seharusnya huruf awalnya kapital (besar)
Yang benar : Lambung Mangkurat, 15 Januari 2012

Penskoran
NO
Nama
Indetifikasi struktur surat dinas ( 60- 90 )
Hasil surat undangan rapat ( 60 – 90 )
Suntingan ( 60 – 90 )






Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis, Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

A. INDENTITAS
    Nama Sekolah                   : SMAN 1 Baregbeg
    Mata Pelajaran                  : Bahasa dan Sastra Indonesia
    Kelas / Semester               : XII / 1
    Alokasi Waktu                  : 1 X pertemuan (2 X 45 menit)
    Aspek                                : Menulis

 B. STANDAR KOMPENTENSI
    4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk surat dinas, laporan, dan resensi

C. KOMPETENSI DASAR
4.3  Menulis laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir

D. INDIKATOR
     1. Mengindentifikasi unsur – unsur laporan hasil diskusi
     2. Menyusun laporan hasil diskusi ( kelas atau seminar )
     3. Melengkapi laporan dengan lampiran

 E. TUJUAN PEMBELAJARAN
       1.Siswa dapat mengindetifikasikan unsur – unsur laporan hasil diskusi
       2. Siswa dapat menyusun laporan hasil diskusi ( kelas atau seminar )
       3. Siswa dapat melengkapi laporan dengan lampiran.

F.    KARAKTER YANG DIHARAPKAN
 Dapat dipercaya (trustworthiness)
 Rasa hormat dan perhatian (respect)
 Tekun (diligence)
 Tanggung jawab ( responsibility )

G. MATERI PEMBELAJARAN
  Contoh laporan diskusi
* unsur – unsur laporan diskusi
    Seminar ……
   Penyelenggara        :
………………………………………………………………………………
   Hari / Tanggal         :
………………………………………………………………………………
   Tempat                     :
………………………………………………………………………………
   Ketua Seminar         :
……………………………………………………………………………….
   Pembicara                 :
…………………………………………………………………………….
   Moderator                  :
…………………………………………………………………………….
   Peserta                        :
……………………………………………………………………………..
   Materi yang dibahas :
………………………………………………………………………….

   Pelakasnaan Seminar
1.Tema                                    : ………………………………………………………………………………….
2. Saran – saran                       : …………………………………………………………………………………
3. Hambatan                            : ………………………………………………………………………………..
4. Simpulan          : ……………………………………………………………………………….
5. Rencana yang akan datang :
………………………………………………………………. 

H. STRATEGI PEMBELAJARAN
1.      Model Pembelajaran     : Comunicative learning
2.      Pendekatan                   : 4 Pilar Pembelajaran
3.      Teknik Pembelajran       : Kunjung Karya

I. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
A.    Kegiatan Awal
Apresepsi :
        -Mengucapkan salam.
        -Menyiapkan perserta didik psikis dan fisik untuk mengikuti proses
            pembelajaran

Motivasi :
   -Mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan             sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari
          -Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan
            dicapai
 B. Kegiatan inti
   a. Eksplorasi
           Dalam kegiatan eksplorasi, guru :
            - Menyusun perserta didik mencari informasi yang luas dan dalam
              tentang tema materi yang akan dipelajari
            -Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media
              pembelajaran dan sumber belajar lain
            -Melibatkan perserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan
              pembelajaran

b. Elaborasi
              Dalam kegiatan elaborasi, guru :
- Guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari 4-5 orang
       Meminta masing – masing kelompok memberi nama yang menarik.
- Guru menugaskan masing – masing kelompok menulis laporan diskusi               seminar dengan melampirkan notulen dan daftar hadir. Masing–masing kelompok mendapat tugas dengan topic yang berbeda
               contoh :
               Kelompok  Topik
                 1. Seminar Keagaman
                 2. Seminar Pendidikan
                 3. Seminar lembaga sosial
                 4. Seminar kesehatan

 -Setelah waktu ditentukan untuk mengerjakan tugas selesai, guru meminta hasil kerja kelompok dianalisis dan dinilai oleh kelompok lain. Hasil karya diputar searah jarum jam. Hasil karya kelompok 1 dinilai oleh kelompok 2, kelompok 2 ke kelompok 3, kelompok 3 ke kelompok 4 dan seterusnya

 -Berikutnya hasil karya berputar lagi. Setiap kelompok menilai semua hasil kerja kelompok lain. Contoh kelompok 1 harus menilai kelompok 2, 3 , dan 4 ( hasil karya yang berkunjung kemeja – meja kelompok untuk dianalisi dan dinilai
 -Setelah semua hasil karya dinilai, guru meminta hasil masing–masing            kelompok memajang hasil karya di dinding kelas
 - Guru dan siswa mengoreksi dan mengomentari hasil karya masing-masing kelompok.
c. Konfirmasi
             Dalam kegiatan konfirmasi, guru :
             - Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan perserta didik.
             - Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksporasi dan elaborasi
               perserta didik melalui berbagai sumber.

 C. Kegiatan Akhir
         ~ Mempelajari materi kebahasaan, kemudian mengerjakan latihan
         ~ bersama–sama dengan perserta didik dan/atau sendiri membuat
            rangkuman/simpulan pelajaran ;
         ~ melakukan penilain dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
            dilaksanakan secara konsisten dan terprogram ;
         ~ memberikan umpan balik terhadap proses hasil pembelajaran ;
         ~ merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi, program pengajaran, layanan konseling dan/atau memberikantugas baik, tugas individual maupun kelompok sesuai dengan belajar perserta didik ;
        ~ menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

 J. SUMBER/BAHAN/ALAT
      - Model peraga    : Sebuah Laporan“Greenpeace Temukan Kegiatan Ilegal di Papua Barat.”
     - Pustaka rujukan    :  Buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XII

K. PENILAIAN
       1. Teknik                      : Lisan dan tulisan
       2. Bentuk Insturmen    : Urain Bebas
       3. Kisi – kisi

Indikator Pencapaian Kompentensi
Penilaian                    
Teknik
Bentuk
1.      Mengindentifikasi unsur – unsur laporan hasil diskusi.

2.      Menyusun laporan hasil diskusi (Kelas atau seminar)

     3. Melengkapi laporan dengan lampiran.


           Tulis


          Tulis


         Tulis
       Uraian bebas


      Uraian bebas


      Uraian bebas

4. Instrumen
Bentuk Soal: 1. Identifikasilah  unsur – unsur laporan hasil diskusi!
                      2. Susunlah  laporan hasil diskusi!
                      3. Lengkapilah laporan dengan lampiran!

Jawaban    :
1.      Identifikasi
   Nama Seminar/diskusi panel : Mengungkapkan nama (tema besar) yang diusung
   Penyelenggara     : Instansi yang menyelenggarakan acara
   Hari / Tanggal         : Waktu, hari dan tanggal pelaksanaan
   Tempat                     : Di mana acara itu berlangsung
   Ketua Seminar         : Pemimpin/koordinator pelaksana seminar/diskusi panel
   Pembicara                 : Yang memberikan materi
   Moderator                  : Orang yang mengatur jalannya seminar/diskusi panel
   Peserta                        : Penyimak
 Materi yang dibahas : Tema yang diungkapkan dan disampaikan kemudian di bahas

Pelakasnaan Seminar
1.Tema               :  Hal utama yang dibahas
2. Saran – saran                   :  Masukan apa yang didapat selama diskusi
3. Hambatan                        : Hal apa saja yang menghambat diskusi
4. Simpulan                         : Pokok yang bisa diambil dari hasil diskusi
5. Rencana yang akan datang : Langkah apa saja yang hendak diambil di masa mendatang

2.
   Nama Seminar/diskusi  panel : Tawuran, Potret Buram Pendidikan
   Penyelenggara     : Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh
   Hari / Tanggal         :  Minggu, 11 November 2012
   Tempat                     : Auditorium Universitas Galuh
   Ketua Seminar         : Alan Maulana
   Pembicara                 : Prof. Dr. Suherli Kusmana
                                       Dr. Ari Sofyan
  Moderator                  : Prian Priani
  Peserta                        : Perwakilan Siswa SMA se-Kabupaten Ciamis. Mahasiswa Universitas Galuh
 Materi yang dibahas :  Apa penyebab tawuran? Siapa yang bertanggungjawab? Apa solusinya

Pelakasnaan Seminar
1.Tema                                     : Tawuran dan potret pendidikan kita
2. Saran – saran                        : Semua orang terutama keluarga berperan dalam mencegah timbulnya tawuran
3. Hambatan                              : Lingkungan yang cendrung liberal membuat siswa mudah terprovokasi
4. Simpulan                               : Masalah pencegahan tawuran adalah tanggungjawab semua pihak.
5.      Rencana yang akan datang : Sosialisasi pencegahan tawuran kepada siswa harus digalakan


Penskoran
No
Nama
Lengkap
( 95 – 80 )
Kurang lengkap
( 85 –75 )
Tidak lengkap
( 70 – 60 )












Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis, Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004








RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A.    IDENTITAS SEKOLAH
Nama                           : SMA NEGERI 1 BAREGBEG
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            : XII/1(Satu)
Aspek                          : Menulis
Alokasi waktu             : 4 x 45

B.     STANDAR KOMPETENSI
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk surat dinas, laporan, resensi

C.    KOMPETENSI DASAR
4.4 Menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku

D.    INDIKATOR
1.      Mencatat identitas buku
2.      Mendaftar pokok-pokok isi
3.      Mencatat keunggulan dari isi buku
4.      Mencatat kekurangan dari isi buku
5.      Menulis resensi buku dengan memperhatikan kelengkapan unsur-unsur resensi
6.      Mendiskusikan resensi yang telah dibuat

E.     TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan belajar mengajar siswa mampu :
1.      Mencatat identitas buku
2.      Mendaftar pokok-pokok isi
3.      Mencatat keunggulan dari isi buku
4.      Mencatat kekurangan dari isi buku
5.      Menulis resensi buku dengan memperhatikan kelengkapan unsur-unsur resensi
6.      Mendiskusikan resensi yang telah dibuat

F.     KARAKTER YANG DIHARAPKAN
1.      Religius                                         6. Aktif                                   11. Teliti
2.      Disiplin                                          7. Kritis
3.      Berani                                            8. Kreatif
4.      Komunikatif                                  9. Kerjasama
5.      Cermat                                          10. Kesungguhan

G.    DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN
Selama ini tahukah kalian apa itu resensi? Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan resensi? Jadi, resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku (Keraf 2001:274).
Dalam resensi terdapat unsure-unsur resensi, antara lain :
1.      Identitas buku
a.       Judul buku
b.      Pengarang
c.       Penerbit
d.      Tahun terbit
e.       Tebal buku
f.       Harga buku (jika diperlukan)
2.      Pendahuluan
a.       Memperkenalkan siapa pengarangnya, dan prestasi apa yang diperolehnya
3.      Tubuh resensi
a.       Sinopsis buku
b.      Ulasan singkat buku dengan kutipannya
c.       Keunggulan buku
d.      Kelemahan buku
e.       Tinjauan bahasa (mudah / berbelit-belit)
4.      Penutup resensi
5.      Identitas peresensi
Contoh resensi :
Perang Paradigma Ilmu Komunikasi
Judul buku      : Matinya Ilmu Komunikasi
Penulis             : St. Tri Guntur Narwaya
Tahun terbit     : 2006
Tebal               : 203 halaman
Harga buku     : Rp 28.000
Peresensi         : Anwar Riksono
“Seruan ini dikumandangkan tepat ketika ilmu komunikasi sedang berada dipuncak kejayaanya. Saat fakultas-fakultas ilmu komunikasi dibanjiri ribuan mahasiswa, serta ratusan publikasi, seminar dan riset tentang ilmu komunikasi gencar dilakukan, seruan ini tak pelak …”
Buku yang cerdas! Ini komentar saya ketika selesai membaca buku ini. Setidaknya ada dua hal yang saya banggakan terhadap  buku ini. Pertama, penulis mampu mengangkat celah permasalahan tentang paradigma penelitian komunikasi (yang sebenarnya ada di sekitar kita). Sebagai informasi, buku ini adalah hasil skripsi penulis di Fakultas Ilmu Komunikasi UNS. Dengan demikian, Anda tak perlu kaget jika sang penulis ternyata ‘membunuh’ ilmu yang selama ini dipelajarinya. Gaya tulisannya yang serakah untuk berusaha menelanjangi ilmu komunikasi ini justru semakin seru untuk dibaca.
Kedua, tulisan ini termasuk berani dalam membeberkan kegalauan riset komunikasi yang selama ini terjadi. Ditulis secara teoritis namun kritis, buku ini mampu menyihir anda yang ingin melakukan riset komunikasi untuk menimbang-nimbang lagi paradigm apa yang hendak dipilih. Pembaca diajak untuk berwisata mengunjungi empat paradigma penelitian komunikasi yang selama ini dikenal. Memang, buku ini banyak menyoroti dua paradigma besar dalam ilmu sosial yakni positivisme dan konstruktivisme (yang oleh beberapa ahli seperti dipertentangkan, bahkan menjadi lawan kata).
Di awal tulisannya, penulis ingin memperkenalkan terbentuknya ilmu pengetahuan sosial dan beberapa kesalahan tentang paradigma. Termasuk di dalamnya, bagaimana komunikasi menjadi sebuah ilmu. Penjelasan singkat, namun cukup menjelaskan bahwa komunikasi sebagai bagian dari ilmu dan pengetahuan yang bersifat multidisipliner. Gaya bahasa yang dituturkan memang sangat ilmiah dan teoritis. Meski demikian, penulis ingin menunjukan secara umum kapasitas komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial yang memang harus lepas dari nilai-nilai kepentingan. Bagian ini memang agak rumit, namun jika telaten untuk dibaca, maka buku ini bisa memberikan pemetaan yang jelas tentang konsep ilmu dan konsep pengetahuan secara lebih luas.
Bagi pembaca (mahasiswa ataupun dosen) yang selama ini berparadigma Positivisme, diperbolehkan naik pitam setelah membaca tulisan di bagian kedua dan keempat. Betapa tidak, tulisan Guntur di bagian kedua bisa mengorek paradigma positivisme yang dianggapnya busuk, penuh dengan nilai kepentingan dan seringkali melakukan intervensi terhadap ilmu komunikasi. Melalui empat sudut pandang: ontologis, metodologis, epistemologis dan aksiologis, penulis mampu melihat kebobrokan paradigma positivisme. Paradigma ini dicela, dikritik habis-habisan dengan kata-kata yang tajam (dan penuh emosi). Seakan-akan para ahli (peneliti) dalam paradigma ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Hati-hati para dosen yang masih menganut paradigma ini, perlu waspada. Anda sedang diancam oleh buku ini.
Tak hanya mengkritik, di akhir bagiannya, penulis mencoba memberikan terobosan baru terhadap paradigma penelitian komunikasi. Sudah bisa ditebak paradigm apa yang menjadi solusi. Paradigma tersebut, tak lain, konstruktivisme, (yang dianggap penulis, selama ini penelitian dengan paradigma ini jarang digunakan). Paradigma ini dianggap paling ‘kreatif dan inovaif’ di komunikasi. Konstruktivisme diajukan penulis sebagai paradigma yang mampu menjawab persoalan-persoalan riset yang selama ini terjadi. Lengkap dengan penjabaran dimensi dasar paradigma. Memang, dibagian ini, paradigma konstruktivisme banyak diagungkan dan menduduki kursi panas. Dielu-elukan! Singkatnya, penulis ingin agar para komunikasiolog (untuk menyebut orang yang konsen di bidang komunikasi-ya termasuk pembaca juga) untuk banyak meneliti melalui paradigma ini.
Selamat, bagi anda yang selamai ini berparadigma konstruktivis. Kiranya buku ini cocok dan perlu anda punyai. Dosen yang menganut paradigma ini boleh sedikit berbangga melalui senyuman anda. Anda sedang dibanggakan oleh buku ini.
Buku ini masih terolong masih hangat. Terbit Mei 2006, buku ini mampu memberikan wacana baru tentang ilmu komunikasi, khususnya terkait  dengan paradigma. Meskipun ilmu komunikasi hanya menjadi srempetan kecil atas pembahasan sang penulis. Penulis lebih terbuai dengan melihat kekurangan model-model paradigma ilmu komunikasi (yang sebenarnya, paradigma tersebut tidak hanya dipakai oleh ilmu komunikasi saja). Di sisi lain, penulis ingin paradigma konstruktivisme juga mendapat riset untuk menyejajarkan paradigma yang sudah ada, kalau bisa konstruktivisme yang paling diunggulkan.
Sayangnya, sang penulis hanya melihat ilmu komunikasi berangkat dari riset paradigmanya, bukan tentang ilmu komunikasi itu sendiri. Saya menangkap, ada indikasi, jangan-jangan tulisan ini sebenarnya bukan untuk ‘mematikan’ komunikasi, tetapi melihat trend riset komunikasi saat ini. Akibatnya, antara judul buku dengan isinya ada ketidaksesuaian. Judul yang terlihat ekstrim, bisa jadi hanya pemicu untuk semakin laku terjual. (Maklum penerbitnya Resist Book). Namun, tak salah jika kita menelisik ulang bagaimana ilmu komunikasi itu terbentuk. Dan bagaimana paradigma peneliti ilmu kimunikasi itu mati. Kalau mati, ya hidupkan lagi. Siapkan senjata ampuh, buku ini sebagai pengibar bendera perang antara konstruktivis da positivis. (Amwar)

H.    STRATEGI PEMBELAJARAN
1.      Model Pembelajaran               : Comunicative Learning
2.      Pendekatan                             : 4 pilar Pendekatan
3.      Metode Pembelajaran                         : Thik-Talk-Write

I.       LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
1.      Kegiatan Awal
a.       Siswa menjawab salam (Religius)
b.      Siswa berdo’a (Religius)
c.       Siswa merespons pertanyaan guru tentang kehadiran (Disiplin)
d.      Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru tentang materi sebelumnya yang berkaitan dengan materi menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku dengan bahasa yang efektif. (Berani, komunikatif)
e.       Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran yang harus dicapai selama dan setelah mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan. (Cermat, aktif, kesungguhan)
f.       Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai proses pembelajaran dan bertanggung jawab dalam kesungguhan belajar. (Sungguh-sungguh)
2.      Kegiatan Inti
·         Tahap Eksplorasi
a.       Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang resensi. (Komunikatif, berani)
b.      Siswa menyampaikan manfaat tentang resensi yang dibaca. (Berani)
·         Tahap Elaborasi
a.       Siswa mempelajari resensi. (Aktif)
b.      Guru memberi contoh sebuah resensi dan bersama siswa mendiskusikan unsur-unsur resensi
c.       Guru meminta siswa menulis resensi buku ilmu pengetahuan
d.      Masing-masing siswa mempresentasikan hasil kerjanya
e.       Selama pembelajaran guru melakukan proses penilaian
·         Tahap Konfirmasi
a.       Siswa menyimpulkan hasil kerjanya
b.      Siswa menyimak hasil ulasan tentang materi yang disampaikan
3.      Kegiatan Akhir
a.       Siswa merefleksi nilai-nilai serta kecakapan yang dapat dipetik dari pelajaran
b.      Guru mendorong siswa agar sering menulis

J.      ALAT DAN SUMBER BELAJAR
1.      Sumber buku
-          Judul buku      : Bahasa dan sastra Indonesia Kelas XII
-          Pengarang       : Muhamad Rohmadi, Yuli Kusumawati
-          Penerbit           : Pusat Perbukuan
-          Tahun              : 2008
2.      Alat bantu             : -
3.      Media                    : -

K.    PENILAIAN
1.      Teknik
-          Tulis
2.      Bentuk Insrtumen : Observasi kinerja / demonstrasi
3.      Kisi-kisi
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Teknik
Bentuk
1.               Mencatat identitas buku
2.               Mencatat pokok-pokok isi
3.               Mencatat keunggulan dari isi buku
4.               Mencatat kekurangan dari isi buku
5.               Menulis resensi buku dengan memperhatikan kelengkapan unsur-unsur resensi
6.               Mendiskusikan resensi yang telah dibuat



Tulis


Tagihan Hasil Karya

4.      Instrumen :
Berikut ini adalah resensi buku pengetahuan!
SASTRA POSKOLONIAL SEBAGAI MEDIA RESISTENSI
Judul                     :Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan praktik Sastra Poskolonial
Penulis                   : Bill Ashcroft, Gareth Griffeths, dan Helen Tiffin
Penerbit                 : Qalam, Yogyakarta
Tahun terbit           : 2004
Tebal                     : xvi + 393 Halaman

Akhir-akhir ini wacana tentang poskolonialisme mencuat menjadi salah satu wacana intelektual utama, khususnya di negara-negara bekas jajahan. Bagi masyarakat negara-negara tersebut, tidak dapat dipungkiri, poskolonialisme memang merupakan wacana yang sangat menarik dan teoritis menantang. Ini mungkin karena kandungannya yang memiliki kaitan erat dengan kondisi mereka sebagai masyarakat poskolonial.
Karena itulah, para penulis buku ini, Ashcroft, Griffeths, dan Tiffin, dalam salah satu bukunya yang lain yang berjudul The Postcolonial Studies Reader (1995) mengemukakan bahwa, meski wacana poskolonial ini mencakup tema-tema kajian yang sangat luas, terentang dari politik, idiologi, agama, pendidikan, kesenian, kebudayaan, enisitas, bahasa, dan sastra, salah satu yang mempertemukan dan mengkarakterisasi beragam tema kajian ini adalah bahwa mereka semua dilatarbelakangi satu momen historis yang sama, yakni kolonilisme.
Dalam konteks itulah, munculnya poskolonilaisme dimaksudkan untuk mengembalikan dan memulihkan keutuhan dan kekuasaan masyarakat yang telah temajinalkan oleh proses-proses kolonialisasi tersebut. Dan salah satu resistensi yang dilakukan adalah melalui karya sasta.
Para kritukus asal Australia yang mengenalkan buku ini menggunakan istilah poskolonial untuk mencakup semua budaya yang menanggung akibat imprealisme, mulai dari masa kolonialisasi hingga sekarang. Mereka ingin menunjukan bahwa para penulis yang lahir di negeri bekas jajahan telah mampu “mendekolonisasi” bahasa Inggris dan memakainya untuk menggugat asumsi-asumsi “Eurosentris” mengenai ras, bangsa, bahasa, dan juga sastra.
Gagasan dalam buku ini menunjukan bahwa teks tetap diyakini memiliki kekuatan dan kedudukan yang sangat penting dalam wacana kolonialisme dan poskolonialisme. Bagi penjajah, teks menjadi slah satu alat kontrol colonial yang paling ampuh. Sebagai sarana kominikasi, teks menjadi kekuatan pendukung dan penyebar paling efektif hegemonikekuasaan kolonial. Kekuasaan imperial mungkin hadir secara nyata melului srana-srana koersif militer dan kekerasan, akan tetapi melalui tekslah kekuasaan ini dikonstruksikan secara lebih jelas.
Melalui wacana-wacana tekstual yang disebarluaskan, pihak kolonial berupaya membentuk kesadaran masyarakat jajahan dan sekaligus mengonstruksikan identitasny. Namun sebaliknya, melalui teks pulalah masyarakat poskolonial disadarkan dan mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Poin inilah yang menjadi bidikan utama buku.
Pada wilayah inilah sastra poskolonial berupaya menampilkan serta mengangkat karya-karya marjinal, karya-karya selama masa kolonial dibungkam oleh otoritas kolonial serta dipinggirkan. Ia mencoba menampilkan teks yang telah terkubur, menemukan lagi pandangan kritis yang ditawarkan sebuah teks, serta memperlihat kan jaring-jaring kekuasaan disekitar teks. Disinilah pendekatan poskolonial selalu menaruh “curiga” terhadap kanon, karena setiap “kanonisasi” memang tak pernah imun dari pertarungan kekuasaan.
Kelebihan yang akan segera nampak ketika membaca buku ini bahwa para penulisnya ketika menuangkan gagasannya tidak berhenti pada tataran deskripsi, melainkan secara sangat memikat mampu menunjukan analisis yang mendalam tentang perdebatan-perdebatan dan perbedaan-perbedaan yang ada dalam wacana poskolonial itu sendiri.
Mereka mampu menunjukan, misalnya perdebatan yang menarik antara para kritikus poskolonial pribumi yang menolak sinkretisitas dan hibriditas kondisi poskolonial karena ingin menghidupkan dan memulihkan kembali kebudayaan pribumi asli prakolonial dengan para penulis poskolonial tandingannya yang menerima hibriditas dan sinkretisitas tersebut dan bahkan menganggpnya sebagai hal yang tak terelakan dari kondisi poskolonial.
Kehadiran buku ini dalam edisi Indonesia layak diapresisai, apalagi untuk konteks Indonesia kita, negara yang pernah mengalami kekejaman kolonial selama 3,5 abad lamanya. Diharapkan kehadiran buku ini mampu memberikan piranti-piranti teoritik yang menandai untuk melakukan pembacaan terhadap karya-karya sastra poskolonial yang hingga kini masih jarang dilakukan dalam masyarakat kita.

-          Uji Kompetensi
1.      Catatlah identitas buku !
2.      Daftarlah pokok-pokok isi !
3.      Catatlah keunggulan dari isi buku !
4.      Catatlah kekurangan dari isi buku !
5.      Tulislah resensi buku dengan memperhatikan kelengkapan unsur-unsur resensi!
6.      Diskusikanlah resensi yang telah dibuat!

L.     KUNCI JAWABAN
1.      Identitas buku
a.       Judul               : Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Poskolonial
b.      Pengarang       : Bill Ashcroft, Gareth Griffeths, dan Helen Tiffin
c.       Penerbit           : Qalam, Yogyakarta
d.      Tahun terbit     : 2004
e.       Tebal buku      : xvi + 393 halaman
2.      Melalui wacana-wacana tekstual yang disebarluaskan, pihak kolonial berupaya membentuk kesadaran masyarakat jajahan dan sekaligus mengonstruksikan identitasnya. Namun sebaliknya, melalui teks pulalah masyarakat poskolonial disadarkan dan mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Poin inilah yang menjadi bidikan utama buku ini.
 Pada wilayah inilah sastra poskolonial berupaya menampilkan serta mengangkat karya-karya marjinal, karya-karya selama masa kolonial dibungkam oleh otoritas kolonial serta dipinggirkan. Ia mencoba menampilkan teks yang telah terkubur, menemukan lagi pandangan kritis yang ditawarkan sebuah teks, setra memperlihatkan jaring-jaring kekuasaan di sekitar teks. Di sinilah pendekatan poskolonial selalu menaruh “curiga” terhadap kanon, karena setiap “kanonisasi” memang tak pernah imun dari pertarungn kekuasaan.
3.      Kelebihan yang akan segera nampak ketika membaca buku ini bahwa para penulisnya ketika menuangkan gagapasannya tidak berhenti  pada tataran deskripsi, melainkan secara sangat memikat mampu menunjukan analisis yang mendalam tentang perdebatan-perdebatan dan perbedaan-perbedaan yang ada dalam wacana poskolonial itu sendiri. Mereka mampu menunjukan, misalnya perdebatan yang menarik antara para kritikus poskolonial pribumi yang menolak sinkretisitas dan hibriditas kondisi poskolonial karena ingin menghidupkan dan memulihkan kembali kebudayaan pribumi asli poskolonial dengan para penulis poskolonial tandingannya yang menerima hibriditas dan sinkretisitas tersebut dan bahkan menganggpnya sebagai  hal yang tak terelakan dari kondisi poskolonial.
4.      Kekurangannya tidak terdapat dalam buku ini, namun krhadiran buku ini perlu diapresiasi.

M.   PENSEKORAN
No
Aspek Penilaian
Bobot
Nilai
1
Mencatat identitas buku
a.       Tepat
b.      Kurang tepat
c.       Tidak tepat


2
Mendaftar pokok-pokok isi
a.       Tepat
b.      Kurang tepat
c.       Tidak tepat


3
Mencatat keunggulan dari isi buku
a.       Tepat
b.      Kurang tepat
c.       Tidak tepat


4
Mencatat kekurangan dari isi buku
a.       Tepat
b.      Kurang tepat
c.       Tidak tepat


5
Menulis resensi buku dengan memperhatikan kelengkapan unsur-unsur resensi
a.       Tepat
b.      Kurang tepat
c.       Tidak tepat


Keterangan:
Nilai Pemeroleham =Skor Pemerolehan
                                  Skor Maksimum     X 100

                                                                                                           
Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis,   Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A.    IDENDITAS SEKOLAH
Nama Sekolah             : SMA NEGERI 1 BAREGBEG
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            : XII/1 (Satu)
Aspek                          : Mendengarkan
Alokasi waktu             : 4 x 45

B.     STANDAR KOMPETENSI
5. Memahami pembacaan novel

C.    KOMPETENSI DASAR
5.1 Menaggapi pembacaan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan

D.    INDIKATOR
1. Menanggapi pembacaan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan

E.     TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan belajar menagajar siswa dapat :
1. Menaggapi pembacaan novel dari segi vokal, intonasi, dan pengahyatan

F.     KARAKTER YANG DIHARAPKAN
1. Religius                               6. Mandiri
2. Disipiln                                7. Kerjasama
3. Komunikatif                        8. Kreatif
4. Cermat                                9. Kritis
5. Aktif                                 10. Gemar membaca



G.    DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN
Selama ini tahukah kalian apa yang dimaksud dengan novel? Apakah kalian pernah membaca novel? Bagaimana intonasi, penghayatannya? Jadi, novel adalah bentuk karya sastra yang didalamnya terdapat nilai-nilai sosial, budaya, moral, pendidikan (Dr. Nurhadi). Hakikatnya medengarkan pembacaan novel adalah pemahaman dan apresiasi nilai-nilai suasana dalam novel. Untuk itu, pendengar perlu memperhatikan intonasi, vokal, dan penghayatan pembaca merupakan cerminan suasana dan apresiasi nilai yang ada dalam novel.
Nah, agar dapat mengapresiasi nilai novel yang tercantum dalam novel yang anda dengar, perhatikan langkah-langkah berikut :
1.      Dengarkan dan pahami rangkaian peristiwa di dalam novel yang disimak!
2.      Temukan pokok cerita novel yang didengar!
3.      Aagar dapat menghayati dan mengapresiasi isi novel, perhatikan hal-hal berikut!
a.       Intonasi atau lagu kalimat  yaitu ketepatan tinggi-rendah, kuat-lemah ucapan, bunyi atau ujaran, Jadi, makna ujaran dan situasi ujaran terlihat dari intonasi yang digunakan.
b.      Lafal atau cara pembaca mengucapkan bunyi bahasa, baik itu lafal vokal, konsonan, maupun diftong. Semua mempengaruhi ucapan.
c.       Jeda dan penekanan pada kata-kata yang menjadi kata kunci informasi atau maksud yang ingin disampaikan.
d.      Daya apresiasi dan ekspresi pembaca sangat menunjang apresiasi pendengar. Apresiasi pembaca saat suasana sedih, gembira, dan dalam cerita tercermin dari penghayatan pembaca.
Simaklah novel berikut ini !
SAMAN
Karya Ayu Utami
….Dan mereka terdiam. Dari langit terdengar deru. Itukah propeler yang akan menjemput kamu, Sihar? Mereka menunggu  kapal terbang sewaan beberapa perusahaan minyak yang menggali di laut sekitar. Jadwal mereka berbeda. Sihar akan ke Palembang. Laila ke Jakarta. Pesawatnya akan datang belakangan, dan ia merasakan perpisahan yang terlalu cepat.
 Ia mulai sedih karena akan segera melihat lelaki itu memasuki badan pesawat, pintunya tetutup, roda-rodanya terangkat, dan kapal itu terbang meninggalkan dia di antara orang-orang yang duduk menunggu di bangku bandara pulau yang kecil dan nampak gersang ini. Bau terasi dan bawang putih, oleh-oleh yang paling banyak dibawa orang yang melewati bandara ini. “Bukan. Pesawatku masih satu jam lagi.” Tiba-tiba Sihar melanjutkan, seperti mendapatkan kembali semangatnya. “Kamu tahu, saya bawa mesiu di tas.”
“Buat  apa!”
Ia agak berisik; “Untuk ngebom kepala Rosano.”
. . .
 “Kenapa kasus ini tidak diajukan pengadilan saja? Kelalaian yang menyebabkan kematian juga termasuk pidana.”
Tapi lelaki itu tertawa sinis. “Kamu pikir Rosano itu siapa? “Saat itulah ia menceritakan bahwa Rosano punya ayah seorang pejabat. “Texcoil punya uang lebih dari yang diperlukan untuk membungkam keluarga Hasyim dan polisi.”
Sesekali, dari balik lensa matanya, dia melirik sekitar, adakah yang mendengarkan pembicaraan ini. Tapi orang-orang asyik dengan bacaan mereka, serta dengan kantong-kantong garlik yang perlu dirapikan agar isinya tidak bertumpahan.
“Apa strategi kamu? “Laila seperti tertular kekhawatirannya, menengok sekeliling, melihat orang-orang yang terkantuk oleh panas, sebelum melanjutkan. “Di samping menggugat Texcoil, kasus ini harus dibuka dan dikampanyekan di media massa. Harus ada orang yang mau mendukung keluarga korban jika terjadi tekanan-tekanan. Harus ada LSM-LSM yang memprotes dan mengusiknya terus. Dan saya punya teman yang bisa mengerjakan itu.”
“Siapa dia?”
Tapi pertanyaan itu membuat si perempuan tiba-tiba termenung. Sebab lelaki yang saya maksud berasal dari masa lalu. Seseorang yang juga pernah begitu dekat di hati saya ketika remaja, lalu menghilang bertahun-tahun, dan muncul kembali sebagai aktivis perburuhan dan lingkungan di Sumatra Selatan, tanah masa kanak-kanaknya. Waktu kecil saya sempat memujanya. Seperti apa wajahnya kini, saya tidak tahu. Baru setahun ini surat-surat saya dibalas lagi. Kami tetap tak pernah bertemu sejak berpisah lebih dari sepuluh tahun lalu.
“Dia. . . dia orang yang banyak ide dan berani. Namanya . . . Saman.” Dulu namanya bukam Saman.
“Bisakah kamu ikut ke Palembang dan menghubungkan saya dengan teman-teman kamu itu?”
Sihar meminta dengan antusias,  tidak membaca kegelisahan wanitu itu, betapapun selintas. Laila mengangguk. Ia segera melupakan kerinduan kecilnya, sebab pria di hadapannya kini memintanya untuk bersama-sama dia. Dia menemani ia yang segara mengurus perubahan jadwal yang mendadak itu. Kami tidak jadi berpisah.
. . .
 (Dikutip dari: Saman, Ayu Utami, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1998)

H.    STRATEGI PEMBELAJARAN
1.      Model pembelajaran    : Comunicative Learning
2.      Pendekatan                 : 4 pilar pendekatan
3.      Metode pambelajaran : Diskusi Tiga Lapis


I.       LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
1.      Kegiatan Awal
a.       Siswa menjawab salam (Religius)
b.      Siswa berdo’a (Religius)
c.       Siswa merespons pertanyaan guru tentang kehadiran (Disiplin)
d.      Siswa menyiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran (Disiplin)
e.       Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai tujuan pembelajaran yang harus dicapai selama dan setelah pembelajaran. (Rasa hormat, disipiln, tekun)
f.       Siswa memperhatikan penjelasan guru. (Rasa hormat, tekun, disiplin)
2.      Kegiatan Inti
·         Tahap Eksplorasi
a.       Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai pengalamnya menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi intonasi, vokal, dan penghayatan.
b.      Siswa menunjukan salah satu contoh penggalan novel
·         Tahap Elaborasi
a.       Siswa mempelajari penggalan novel yang dibacanya
b.      Guru membentuk kelompok siswa menjadi 3 bagian dengan jumlah yang sama. Sesi 1 dimulai dengan mendengrkan siswa kelompok 1 membacakan penggalan novel dari segi intonasi, vokal, dan penghaytan. Kelompok 2 dan 3 mencatat hasil diskusinya, demikian seterusnya.
c.       Siswa dipantau dengan blangko pelacak oleh guru
·         Tahap Konfirmasi
a.       Siswa menyimpulkan hasil diskusi (Kreatif, komunikatif)
b.      Siswa menyimak ulasan materi yang telah dipelajari (Kesungguhan)

3.      Kegiatan Akhir
a.       Siswa merefleksi nilai-nilai dan kecakapan hidup yang didapat dari pembelajaran. (Kreatif)
b.      Siswa didorong oleh guru untuk terus menumbuhkan kreatifitasnya

J.      ALAT DAN SUMBER BELAJAR
1.      Sumber buku
-   Judul buku      : Modul Bahasa Indonesia
-   Pengarang       : Tim edukatif
-   Penerbit           : CV. Hayati Tumbuh Subur
-   Tahun              : 2008
2.      Alat bantu                   : -
3.      Media                          : Novel

K.    PENILAIAN
1.      Teknik             : Tes Lisan
2.      Bentuk            : Perfomansi dan format pengamatan
3.      Kisi-kisi
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Teknik
Bentuk
1.      Menanggapi pembacaan pengglan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan
Lisan
Performansi
4. Instrumen :
-   Uji kompetensi
                        Simaklah penggalan  novel “Laskar Pelangi”
“Di dekat para siswi tadi, aku berpura-pura menunduk untuk membetulkan tali sepatu, yang sebenarnya tidak apa-apa, sehinggaketika aku bangkit aku mendapat kesempatan menyibakan jambulku seperti gaya pembantu membilas cucian. Ah, elegan sekali. Sangat Melayu! (Andrea Hirata. 2008:11)
            Bentuk soal
1.      Tanggapilah pembacaan penggalan novel di atas dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan!
Jawaban
1.      Observasi siswa

L.     PENSKORAN
No
Nama
Vokal
Intonasi
Penghayatan
Keterangan
B
C
K
B
C
K
B
C
K





































Keterangan :
·         B/C/K                          : Baik, Cukup, Kurang
·         Intonasi dan vokal      : Kesesuaian pembacaan
·         Penghayatan                : Ekspresi dan mimik wajah

                                                                                                           
Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis,   Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A.    IDENTITAS SEKOLAH
Nama Sekolah                         : SMA NEGERI 1 BAREGBEG
Mata Pelajaran                        : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester                      : XII/1 (Satu)
Aspek                                      : Mendengarkan
Alokasi Waktu                        : 4 x 45

B.     STANDAR KOMPETENSI
5. Memahami pembacaan novel

C.    KOMPETENSI DASAR
5.2 Menjelaskan unsur-unsur instrinsik pembacaan penggalan novel

D.    INDIKATOR
1.      Menjelasakan unsur-unsur instrinsik dalam penggalan novel yang  dibacakan teman

E.     TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan belajar mengajar siswa dapat :
1.      Menjelaskan unsur-unsur instrinsik dalam penggalan novel yang dibacakan teman

F.     KARAKTER YANG DIHARAPKAN
1.      Religius
2.      Rasa hormat
3.      Disiplin
4.      Kritis
5.      Kreatif
6.      Tanggung jawab
G.    DESKRIPSI MATERI PEMBELAJARAN
Pernahkah kalian membaca atau mendengarkan penggalan novel ? Apakah menyimak pembacaan novel itu? Apa sajakah unsur-unsur instrinsik dalam penggalan novel? Jadi menyimak pembacaan penggalan novel artinya harus memahami unsur-unsur pembangun novel, novel dibangun oleh unsur instrinsik dan ekstrinsik. Unsur instrinsik novel meliputi sebagai berikut :
1.      Tema, yaitu pokok utama cerita yang mendasari cerita novel
2.      Latar, yaitu tempat, waktu, suasana yang melatarbelakangi cerita
3.      Penokohan, yaitu tokoh beserta perwatakannya
4.      Sudut pandang, yaitu posisi pengarang dalam cerita tentang novelnya
5.      Konflik, adalah pertikaian yang menjadikan cerita dapat berjalan
6.      Amanat cerita, adalah pesan pengarang yang ingin disampaikan lewat cerita
7.      Gaya bahasa, adalah gaya atau teknik kebahasaan yang digunakan pengarang dalam bercerita
Sementara itu, unsur ekstrinsik novel meliputi riwayat hidup pengarang, pendidikan, status social pengarang, dan sebagainya. Jadi, unsur instrinsik adalah unsur pembangun novel dari dalam, sedangkan unsur ekstrinsik dalam unsur pembangun novel yang berada di luar novelnya.
Simaklah novel berikut ini !
Jalan Menikung
Karya : Umam Kayam
Waktu umur Harimurti mendekati empat puluh tahun, orang tuanya mengingatkannya bahwa dia sudah cukup tua un tuk membangun keluarga.
“Kau toh tidak dapat terus-menerus larut dalam kesedihan masa lalumu, Har. Bagaimna hidup akan harus kau jalani terus.” Harimurti mendesah dalam hati. Orang tua yang selalu baik hati. Bagaimanapun ucapanmu itu sudah merupakan klise yang berulang kali, beribu kali diucapkan oleh beribu orang tua diseluruh mukabumi, aku tetap akan menerimanya tanpa rasa bosan dan jengkel. Karena saya tahu tidak terlalu banyak persediaan harapan yang tersisa bagi anak tunggalmu ini pada hari-hari kalian yang sudah menipis ini. Pada suatu ketika, sekian tahun yang lalu, tahun-tahun prahara itu, kalian sudah hampir memiliki anak menantu, bahkan juga cucu kembar yang sekali renggut telah dijemput maut dalam penjara.
 Kalian menghiburku untuk selalu tawakal dan pasrah kepada Gusti Allah, untuk menerima semua cobaan itu. Dan saya menerima kesabaran dan kasih sayang kalian, bersama Lantip, menjalani tahun-tahun pendewasaan kami. Lantip, anak pungut kalian yang nyaris sempurna kebaikan hatinya, melewatkan tahun-tahun yaris mulus tanpa suatu gejolak yang berarti hingga sempat berkeluarga dengan Halimah, bunga Pariaman bagi keluarga kita yang ikut menyiran kegembiraan dan kebahagiaan dihari-hari tuamu.
Sedangkan aku, hanya mendatar tanpa tanjakan-tanjakan yang berarti, meskipun bukannya tanpa bersyukur dapat mencapai kedudukanku dalam perusahaan penerbitan ini, berkat koneksi mitra usaha Tommi yang memiliki seorang paman, Maryanto, purnawirawan brigjen yang berusaha dalam dunia penerbitan. Oh, saya tidak mengeluh tentang perjalanan hidup yang saya jalani. Bahkan, boleh dibilang saya cukup mensyukuri nasibku. Hidup adalah satu mangkuk penuh dengan macam-macam buah cherry. Ada yang manis, ada yang kecut, ada yang hamper busuk. Maka kita alkan selalu untung-untungan dalam mencopot buah cherry itu. Begitu kata orang Amerika sana. Life is but a bowl of cherries….. . Pokoknya, aku boleh dibilang okelah… .
“Begini, Hari. Kamu masih ingat Suli, kan?”
“Suli yang mana, Bu?”
“Kok Suli yang mana! Suli kita ya cuma satu. Itu, lho. Sulistianingsih, putrid tunggal Tante Nunung, sepupu Ibu.”
“Yang mana sih, Bu?”
“Kamu itu memang payah kok, Hari. Tidak pernah kenal keluarga kita. Keluarga itu kan penting. Kalau ada apa-apa kan keluarga kita juga, to, yang kita mintai tolong. Kami, kamu, kau pernah mengalami itu semua. Maka itu selalu diusahakan, to, ingat keluarga.”
“Ya Sudah. Terus bagaimana dengan Mbak atau Dik atau, bahkan, Tante Suli itu?”
“Nah, kamu kan mau main potong saja, kan?”
“Hari, mbok kamu yang sabar mendengarkan cerita ibumu.”
“Ya, Pak.”
“Begini lho, anakku lanang yang bagus. Kamu itu sentar lagi akan empat puluh tahun, to?”
“Lha iya, Bu. Terus bagaimna?”
“Ini lho, Suli yang sesungguhnya abu-nya lebih tua dari kamu, tapi umumnya kira-kira lima tahun lebih muda dari kamu. Anaknya cantik, sedep, dan cerdas, terpelajar. Wong tamat IKIP.”
“Lantas?”
“Ko lantas? Ya, bapakmu dan ibumu ini sudah sepakat kalau kamu ya dijodohkan dengan Suli.”
“Kok Bapak dan Ibu enak saja mau menjodohkan Suli sama saya. Apa anaknya sudah ditanya?”
“Heh, heh, heh. Yang penting itu kamu bersedia kawin apa tidak? Ini lho fotonya!”
Harimurti mengamati foto yang diberikan ibunya. Dilihatnya ada gambar seorang perempuan muda yang bermata besar dan cerdas yang sedang tersenyum lebar.”Boleh juga, “gumam Harimurti.
“Benerannya hitam atau kuning langsat, Bu?” Hardoyo, bapak Harimurti, tertawa.
“Heh, heh, heh. Ternyata kamu rasis juga. Menganggap warna kulit penting juga.”
“Lho, saya dengar Suli punya sedikit darah China di tubuhnya. Embah putrinya atau apanya itu dikabarkan pernah jadi simpanan babah kaya?” hardoyo dan istrinya dengan wajah sangat terkejut saling memandang muka masing-masing. Harimurti dengan tenang saja melontarkan kata-katanya itu. Hardoyo memandang putranya dengan wajah sedikit tegang.
“Dari mana kau dengar cerita itu. Rupanya kamu sudah lama dengan kabar bohong, bahakan fitnah tentang keluarga sepupu ibumu, ya? Jangan sekali-kali kamu percaya kabar bohong itu.”
“Kenapa kau buka pengetahuanmu tentang Suli pada hari ini, pada waktu bapak dan ibumu mau menjodohkan kamu dengan Suli, he?” Sekarang Harimurti menyesali dirinya karena sudah terlalu enteng berbicara dengan calon jodohnya itu. Dengan cepat dirangkul dan dicium ibunya dan mohon maaf atas kata-katanya yang telah merisaukaan dan ibunya itu.

H.    STRATEGI PEMBELAJARAN
1.      Model pembelajaran    : Comunicative Learning
2.      Pendekatan                 : 4 Pilar pendekatan
3.      Model pembelajaran    : Model Tim Quiz (Kuis kelompok)

I.       LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
1.      Kegiatan Awal
a.       Siswa menjawab salam (religius)
b.      Siswa berdo’a (Religius)
c.       Siswa menyiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran menjelaskan unsur-unsur instrinsik penggalan novel yang dibacakan teman. (Kesungguhan, disiplin)
d.      Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai tujuan yang harus dicapai selama dan setelah mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan. (Rasa hormat)
e.       Siswa memperhatikan penjelasan guru dalam pembelajaran. (Disiplin, rasa hormat)
2.      Kegiatan Inti
·         Tahap Eksplorasi
a.       Siswa dan guru melakukan tanya jawab megenai pengalamannya tentang menjelaskan unsur-unsur instrinsik dalam penggalan novel yang dibacakan teman (Kesungguhan)
b.      Siswa menunjukan salah satu contoh penggalan novel. (Kreatif)
·         Tahap Elaborasi
a.       Siswa dibentuk menjadi 3 kelompok. (Kreatif)
b.      Siswa menyimak pembacaan penggalan novel. (Disiplin)
c.       Kelompok II menbuat pertanyaan mengenai topic yang sedang dibahas. (Kreatif)
d.      Kelompok I menjawab pertanyaan kelompok II. Apabila kelompok I tidak bisa menjawab maka kelompok III boleh menjawab. (Kreatif)
e.       Kelompok II menganalisis kebenaran jawaban. (Kreatif)
f.       Sesi II dimulai kelompok II menjawab pertanyaan dari kelompo III. (Kreatif)
·         Tahap Konfirmasi
a.       Siswa menyimpulkan hasil diskusi. (kreatif, komunikatif)
b.      Siswa menyimak ulasan pembelajaran dari guru. (Disiplin, rasa hormat)
3.      Kegiatan Akhir
a.       Siswa merefleksi nilai-nilai yang didapat dari pembelajaran. (Komunikatif)
b.      Siswa didorong oleh guru untuk menumbuhkan kreatifitasnya.

J.      ALAT DAN SUMBER BELAJAR
1.      Sumber buku :
1). Judul Buku      : - Bahasa dan Sastra Indonesia,
  - Modul Bahasa Indonesia
2). Pengarang        : - Muhamad Rohmadi
  - Tim Edukatif
3). Penerbit            : - Pusat perbukuan Departemen pendidikan nasional
  - CV. Hayati Tumbuh Subur
2.      Alat Bantu            : Contoh penggalan novel
3.      Media                    : -                    

K.    PENILAIAN
1. Teknik : Lisan
2. Bentuk : Observasi demonstrasi
3. Kisi-kisi :
Indiktor Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Teknik
Bentuk
1.      Menjelaskan unsur-unsur instrinsik dalam penggalan novel yang dibacakan teman
Lisan
Observasi

4. Instrumen :
    Simaklah penggalan novel beikut ini !
           
KOSIM LAGI
Karya : Nur Sultan Iskandar
Hari Jum’at petang. Matahari sudah hamper tersembunyi di balik gunung sebelah barat. Langit bersih, udara hening lagi jernih. Puncak pohon kayu yang tinggi-tinggi berwarna kilau-kilau dan sawah yang luas-luas bagai dihampiri dengan emas perada, sebab kena sinar penghabisan sang surya yang hendak masuk ke peraduannya. Akan tetapi, dibawah pohon-phohnan itu sudah mulai gelap, sedang hawa berangsur-angsur sejuk rasanya.
Seorang tua duduk di beranda rumahnya, yang  kelindungan dari jalan raya oleh pohon buah-buahan. Rupanya kesedapan hawa dan keindahan petang hari itu tiada terasa olehnya. Ia gelisah. Sebentar ia berdiri dari bangku panjang di sisi beranda itu, berjalan hilir mudik sambil hilir mudik sambil berpikir, dan sebentar lagi ia pun terperanjak duduk pula.
“Hem, dari dahulu sudah terpikir juga olehku demikian! Tak bermalu! Ia mengaku bersahabat dengan daku, tetapi begini niatnya …”
Di tangannya ada sepucuk surat, yang terbuka dan sudah dibacanya.
Akan tetapi ia belum puas rupanya, sebab surat itu pun dibacanya sekali lagi, dengan lambat-lambat dan tenang. Tiba-tiba ia tersenyum mengejeknya.
“Pangkat sedemikian yang dibanggakannya! Apa saja perasaanya? Bininya, anak-anaknya hendak diapakannya, maka ia berani benar meminta anakku? Hem, Fatimah akan bermadu, akan berlaki tua, akan jadi istri menteri itu? Ha, ha, ha …”
Ia pun segera berdiam diri, sebab pintu berkicut dibukakan orang dari dalam. Nyai salamah ke luar dan berkata dengan senyumnya, “Suka benar hati Akang rupanya, tertawa seorang diri. Ada apa Akang?”
Perempuan itu pergi duduk di ujung bangku yang diduduki suaminya, seraya memandang ke luar sebagai acuh tak acuh.
“Ada kabar aneh, lucu,” kata Haji Junaedi dengan senyum dari ujung yang lain.
“Coba ceritakan, sya dengar.”
“Fatimah di mana?”
“Ada di belakang bermain-main: tapi ada apa?” Tanya perempuan itu dengan agak berdebar-debar hatinya.
“Engkau kenal juragan Suria?”
“Manteri kabupaten? Mengapa takan kenal? Yang kemarin dulu, dan sahabat Akang?”
“Benar. – ya, sahabat akang itu berkirim surat kepada akang. Ia meminta Fatimah akan jadi istrinya. Ini suratnya, manis dan halus benar isinya.”
Haji Junaedi memperlihatkan surat yang masih dipegangnya itu kepada istrinya. Nyai Salamah terkejut, ternganga mulutnya dan pucat warna mukanya.
“Engkau suka bermenamtukan manteri itu?” Tanya suaminya dengan tenang.
“Bermenantukan orang tua, yang berbini dan beranak itu? Daripada anakku bermadu, lebih baik dia tiada berlaki selama-lamanya. Tidak, Akang, saya tidak mengharapkan pangkat, hanya kesenangan anak saya.
Rupanya ia suka kepada… . Siapa gerangan orang muda itu? Den Kosim, ya benar! Bagaimana rundingan dengan Juragan Patih, akang?”
“Belum ada keputusannya.”
“Lebih baik hak itu Akang segerakan, ulang rundingan dengan Juragan Patih. Katakan, bahwa kita sudah siap.”
“Jadi engkau tiada suka kepada menteri kabupten itu? Ia bagus, berpangkat; mulutnya manis….”
“Jangan berolok-olok juga, Akang. Bila Akang hendak pergi ke kota?
Surat itu leboih baik dibakar saja! Rupanya tak ada sedikit jua ia segan kepada Akang”
“Kita orang desa, tak berharga di matanya. Ya, hari Ahad di muka ini sya ke rumah Juragan Patih. Surat ini saya bawa, ada gunanya.
Akan penguatkan rundingan, supaya ia jangan berlalai-lalai juga.”
Seseungguhnya pada hari yang ditentukan itu, pukul lima petang Haji Junaedi sudah ada di rumah patih. Ia disambut oleh R. Atmadi Nata dengan senag hati. Sesudah bercakap-cakap Akang hendak menyegerakan pekerjaan itu. Akan tetapi apa perlunya diburu-buru benar? Takkan lari gunung dikejar. Apalagi ia baru dua bulan bekerja, tentu belum dapat menyediakan apa-apa.”
“Dari dahulu suadah saya katakana: tak usah di bersedia-sedia.
Sekaliannya tanggungan aya, bukan? Yang perlu sekarang lekas ….”
“Menyesak rupanya! Apa sebabnya?”
“Kerja baik elok dilekaskan, Juragan, supaya jangan disela lekas kerja buruk.”
“Ada alasannya?”
“Banyak. Pertama Fatimah sudah besar, kedua kami suah siap dan ketiga….” Ujar H.Junaedi dengan senyumnya, dan sambil menunjukan sepucuk surat ke tangan R. Atmadi Nata ia pun menyambung perkataannya, “Ini yang penting sekali juragan. Saya harap juragan baca sendiri.”
Baru melihat tulisan alamatnya saja R. Atmadi Nata sudah tahu siapa surat itu. Dengan tenang surat itu pun dibacanya. Kemudian diliptnya dan diberikannya kepada Haji Junaedi kembali, seraya katanya, “Tak kusangka-sangka! Agaknya sudah terbalik otaknya. Jadi bagaimana ikiran Akang sekarang?”
Saya menurut timbangan juragan sendiri. Elok kata juragan elok; buruk kata juragan, buruk. Asal kerja itu dilekaskan.”
“Dengan menteri itu?”
Haji Junaedi terkejut, pucat mukanya.
“Ha, ha, ha,” tertawa R. Atmadi Nata dengan tiba-tiba. Tetapi bila menteri kabupten bertemu dengan Fatimah?”
“Dahulu, ketika ia bertandang ke rumah saya. Barangkali Juragan masih ingat: ia hendak ayam….?
“Ya, saya masih ingat.”
“Beberapa hari sesudah itu ia dating ke desa, lalu saya sambut sebagai biasa. Ketika itu sudah ada jua terpikir oleh saya, bahwa anaknya tidak lurus. Salah pandangannya kepada anak saya itu.”
“Hem, ya…”
“Benar, Juaragan! Tunjuk lurus, kelingking berkait.”
“Tetapi mengapa sekarang baru teringat olehnya akan berkirim surat sedemikian?” Tanya patih, seraya menggelengkan kepalanya. “Nasib Suria….,” katanya pula dalam hatinya. Sekarang Kosim lagi yang jadi batu penarung baginya! Ya, benar kata Akang tadi.” Ujarnya kuat-kuat.
“Baik disegerakan kerja itu. Tentang surat itu, lebih baik dipandang sebagai tak ada saja. Robek atau bakar, jangan sampai diketahui orang lain. Tunggu sebentar….” Ia bangkit berdiri dari kursinya, lalu masuk ke dalam. Sejurus anataranya ia pun ke luar duduk pula.
Keduanya berdiam diri. Patih memandang ke samping, lalu kelihatan olehnya Raden Kosim datang dari belakang. Pada air mukanya terbayang kesenangan hatinya, suka, sebagai sudah mendapat sesuatu yang diharap-harapkannya. Ia tersenyum simpul, naik ke langkah dan memberi salam kepada Haji Junaedi dengan takzim. Sesudah di kursi di antara kedua mereka itu.
“Kosim,” kata R. Atmadi Nata dengan perlahan-lahan.
“Emang Haji datang sekali ini sengaja hendak menentui rundingan tempo hari. Bagaimana pikiranmu sekarang? Sudahkah engkau terima jawab dari ibumu?”
“Saya, juaraga,” sahut orang muda itu, anatara kedengaran dengan tiada. “Kebetulan ada saya menerima sepucuk surat dari Garut tadi, tengah hari.” Ia pun minta izin akan mengambil surat itu ke kamarnya. Ketika ia datang kembali, diserahkannya surat itu ke tangan patih.
“Nah, selesai sudah,” kata patih, sesuadah membaca surat itu.
“Kehendak Akang Haji telah berlaku dan berkenan. Ia sudah beroleh izin dari ibunya.”
“Alhamdulillah!”
Dengan segera Patih menyuruh  Kosim memanggil ibunya ke belakang. Setelah istri patih duduk, demikian pula Kosim, keempat-empatnya pun mulai memperundingkan cara dan waktu perkawinan Kosim dengan Fatimah akan dilangsungkan. Tentang perkara tempat, lama istri patih bertegang-tegang dengan Haji Junaedi. Masing-masing mengeraskan di rumahnya. Akan tetapi, akhirnya istri patih terpaksa mengalah. “Apa boleh buat,” katanya dengan senyumnya. “Benar, tentu tak enak bagi Mbak Fatimah, kalau beralat di sini. Jadi bila waktunya?”
Tiga pasang mata memandang kepada Kosim. Dengan kemalu-maluan orang muda itu pun berkata,  ujarnya, “Apabila ibuku datang dari Garut, Ibu.”
“Di Rancapurut sudah sedia sekaliannya, bukan?” Kata Patih.
“Sudah, Juragan. Bila saja dapat dilangsungkan ….”
“Kalau begitu,” kata istri patih pula,” sekarang ini tanggal lima belas.
Tanggal 2….., tanggal 3 bulan di muka jatuh pada hari Minggu bagaimana kalau hari ini?”
“Baik,” kata Haji Junaedi dengan cepat dan riang.
“Pikirku,” kata R. Atmadi Nata, “sebab ibu Kosim akan datang kemari, sebagaimana tersebut dalam surat ini, lebih baik dengan dia kita sama-sama mencari saat yang saempurna. Ingat: anaknya yang laki-laki Cuma seorang ini saja. Hendaknya jangan karena hal yang sedikit itu ia berasa dibelakangkan. Jangan kita ambil sekalian kekuasaannya.”
“Benar pula itu,” kata Haji Junaedi. “Pendeknya, saya menurut saja.”
***
Tiga pekan kemudian daripada itu, pada hari Ahad, kelihatannya banyak tamu berangkat dari Sumedang ke Rancapurut, ditumpangi oleh priyayi dan menak-menak dengan istrinya masing-masing, karena pada hari itu ada perjamuan besar disana. Mereka itu terpanggil akan menghadiri upacara nikah kawin Kosim dengan Fatimah, yang diramaikan dengan bunyi-bunyian dan permainan yang biasa di tanah Pasundan. Ada tayuban, atri-tarian, dan pada malam hari dipertunjukan wayang golek yang sangat digemari orang.
“Demikian ramai orang besar-besar ke perjamuan itu,” kata Sumita yang berdiri di pinggir jalan, “tapi heran, Juragan Suria tidak tampak.
Ke mana dia gerangan?”
“Juragan istri pun tiada juga,” sahut bininya.
“Hem, ya, mungkin… beralangan.” Kata Sumita pula. “Sayang, padahal Juragan Suria suka benar akan keramaian serupa itu. Dan wayang golek kegemarannya…”
“Barang kali malam kelak dia ke sana, siapa tahu?” sahut bini Sumita pula, sambil masuk ke pekarangan rumahnya, di sebelah atas jalan raya itu. “Keadaan orang masing-masing tidak dapat kita tentukan!”
(Sumber : novel “Katak Hendak Jadi Lembu”, halaman 119-124)

2.      Uji kompetensi
1.      Jelaskan unsur-unsur instrinsik penggalan novel diatas!


L.     KUNCI JAWABAN
·         Tema                     : Perjodohan
·         Latar                      : Tempat : Rumah, pekarangan, beranda, rumah, kamar
·         Penokohan            :
a.       H. Junaedi             : bijak
b.      Hj. Salamah           : penyayang
c.       R. Atmadi Nata    : berprinsif
d.      Istri R. Atmadi Nata : berprinsif
e.       R. Kosim               : penurut
f.       Fatimah                 : periang
g.      Juragan Suria         : Sombong
·         Sudut pandang :
·         Konflik                              : Keinginan Juragan Suria yang sudah beristri yang ingin menikahi Fatimah yang masih muda, tapi orang tua Fatimah terutama Nyai Salamah tidak mau anaknya dimadu.
·         Amanat                             : Janganmemaksakan kehendak  dan mensyukuri yang ada
·         Gaya bahasa                      : Personifikasi
M. PENSKORAN
No
Nama Siswa
Performan
Jumlah Skor
Nilai
Pengetahuan
Praktik
Sikap















Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Baregbeg


Sudarman, S.Pd., M.Pd
195907101986031013
Ciamis,   Oktober 2012
Guru Mata Pelajaran


Shinta Rini, S.Pd
197912092003122004

Share this article :

Cari Materi Pelajaran Lain

Mari Bergabung

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger