tas

Esai Sastra Tentang Puisi : Resepsi Indikator Sebuah Puisi?

Written By Prito Windiarto on 30 April 2015 | 10:05 AM

Esai  Sastra Tentang Puisi
Resepsi Indikator Sebuah Puisi?


Puisi adalah curahan jiwa yang dirangkai melalui kata-kata indah. Pengertian itulah yang melekat pada orang awam. Herman J. Waluyo pada Teori dan Apresiasi Puisi (1987: 25) pun menyatakan “puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan mood”. Sehingga terkadang ketercernaan sebuah puisi hanya dapat diuraikan oleh penyair itu sendiri dan akibatnya banyak tafsir yang berkembang tanpa memperdulikan makna hakiki puisi tersebut. Adanya perbedaan pemahaman ini dapat terjadi karena dua hal. Pertama, prinsip horizon harapan (harapan pembaca sebelum membaca puisi akan sebuah puisi). Kedua, tempat terbuka (berhubungan dengan sifat karya sastra). Prinsip harapan dibagi menjadi tiga kriteria; horizon harapan yang ditentukan oleh norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca, horizon harapan yang ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya dan horizon yang ditentuakan pertentang antara fiksi dan kenyataan.
H.B. Jassin pada tahun 1962 mencoba meresepsi puisi Chairil Anwar yang berjudul “Sebuah Kamar”,”Diponeoro”,”Cerita buat Dien Tamaela” H. B. Jassin memberi tanggapan secara positif akan karya Chairil Anwar tentang inovasi terhadap sajak-sajak sebelumnya, tentang rasa individualism yang kuat melekat pada puisi-puisi Chairil Anwar adalah sebuah tendensi pembeharuan, kebanggaan nasional hingga kondisi buruk masyarakat Indonesia masa itu, walaupun awalnya karya Chairil Anwar ditolak karena gaya individualime tersebut. Hal tersebut juga diamini oleh Aoh K. Hadimadja yang juga dituangkan kedalam beberapa esai.
Contoh yang lain adalah puisi Aku Ingin karya Ida Rosdiana, mahasiswi program studi Bahasa dan Sastra Indonesia universitas Galuh dalam kumpulan puisi “MUTIARA-MUTIARA”,
AKU INGIN
Aku ingin bertanya lagi
tentang langit yang diam
aku ingin bertanya lagi
tentang ombak yang berhenti bergerak

Lalu …
masih ingin ku bertanya
tentang kelopak matamu yang ragu
seperti perlahan memudar

Tapi …
aku tak kan berhenti bertanya
tentang langit yang menyapa
tentang ombak yang kembali menderu
menyentuh lembut pasirku

ketika kita membaca puisi “Aku Ingin” karya Ida Rosdiana, pasti akan banyak yang menghubungkannya dengan masalah perasaan cinta picisan. Kenyataan yang terjadi, puisi ini bermakna lebih dari itu. Puisi “Aku Ingin” mencoba menggabarkan perasaan seorang anak kepada orang tuanya yang mulai memasuki gerbang usia tua. Pada bait pertama Ida mencoba memapar hal yang biasa dilakukan oleh seorang anak yang tumbuh berkembang, bertanya akan semua hal yang baru dalam kehidupan.
Aku ingin bertanya lagi
tentang langit yang diam
aku ingin bertanya lagi
tentang ombak yang berhenti bergerak

 Bait kedua, Ida mencoba menerawang akan apa yang terjadi pada orang tuanya. Kelelahankah, keputus asaankah atau keraguan menghadapi masa yang akan datang. Rasa itu ditekankan pada baris,

tentang kelopak matamu yang ragu
seperti perlahan memudar

 Bait terakhir, Ida berusaha menegaskan bagaimanapun kedaanya nanti pasti tempat kembali adalah orang tua. Sebuah puisi yang dikemas apik dengan majas metafora yang lugas walau resepsi yang didapat berupa resepsi tersirat.
 Prito Windiarto dalam kumpulan puisinya “Serpihan Kehidupan” menampilkan puisi yang sederhana namun penuh dengan kesahajaan akan arti hidup dalam “ Tentang Bersama Pekat”, perjuangan “Jabal Uhud” dan rasa cinta “ Seluruhmu Ibu”. Kata sederhana yang akan mudah dimengerti oleh pembaca namun akan membekas maknanya dihati. Ketersuratan yang membungkus makna hakiki.

Namun apapun resepsi yang didapat oleh penikmat puisi, tidaklah dapat memngurangi makna hakiki suatu  puisi, karena bukanlah hanya resepsi yang menjadi patokan bagus tidaklah suatu puisi tapi ada tidaknya esensi yang ada dalam sebuah puisi. Bukankah percuma bila suatu puisi yang bagus, namun tidak dapat dimengerti penikmat puisi sehingga tak mampu memberikan sumbangsih bagi pembcanya itu sendiri.

Disusun Oleh :

EMMIE APRIANI

KURNIAWAN
MEIDA RAYA WIBAWA
M. RIZKI
TENNY INDRIATI N.F

 Esai  Sastra Tentang Puisi
Resepsi Indikator Sebuah Puisi?






Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger