tas
Home » » PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING

Written By Prito Windiarto on 07 December 2014 | 8:59 PM


PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING
Keterampilan Menulis


BAB I
PENDAHULUAN
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING
        A.     Latar Belakang
Sesuai dengan tuntutan kurikulum SMA, bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dipenuhi dari beberapa aspek. Mulai dari menulis paragraf hingga menulis kritik sastra. Namun sudah menjadi rahasia umum, menulis adalah keterampilan yang paling dihindari oleh para siswa. Baik itu dari tingkat dasar hingga tingkat atas yang notabennya memiliki lebih besar kemampuan dalam perbendaharaan kata, pengalaman dan kondisi psikologisnya. Hal ini terjadi karena masih banyak siswa SMA yang terjebak dengan sugesti buruk akan keterampilan menulis. Kondisi tingkat keterampilan berbahasa yang menempatkan keterampilan menulis sebagai kompetensi berstrata paling tinggi, sedikit banyak memberikan pengaruh kepada siswa bahwa menulis itu sulit.  Padahal seorang novelis sastra Amerika William Faulkner menyatakan, “menulis itu sepuluh persen bakat dan sembilan puluh persen adalah kerjakeras”. Maka dari itu, peran guru sebagai pembimbing sangat diperlukan dalam merealisasikan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar yang berhubungan dengan keterampilan menulis, dan metode yang digunakan disisni adalah metode Scaffolding.
Scaffolding dikembangkan sebagai sebuah metafora untuk menjelaskan tentang suatu bentuk bantuan yang ditawarkan oleh guru atau teman sejawat untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses scaffolding, guru membantu penguasaan tugas atau konsep-konsep yang sulit dicerna siswa. Guru hanya membantu siswa dengan memberikan arahan atau media dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dikuasai siswa, namun tanggung jawab penyelesaian tugas tetap pada diri siswa. Scaffolding merupakan jembatan yang digunakan untuk menghubungkan apa yang sudah diketahui oleh siswa dengan sesuatu yang baru yang akan dikuasa atau diketahui siswa.
Dari  keadaan diatas maka penulis mengangkat masalah tersebut dengan judul PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING. Denga harapan siswa SMA mampu melaksanakan keterampilan menulis dengan baik.


     B.     Rumusan Masalah 
           PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DENGAN METODE SCAFFOLDING
1.      Bagaimana rencana pelaksanaan pengajaran menulis dengan metode scaffolding?
2.      Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan metode scaffolding?
3.      Bagaimana perubahan kemampuan siswa dalam peningkatan keterampilan menulis dengan metode scaffolding?

      C.     Tujuan Penulisan
1.      Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menulis dengan metode scaffolding.
2.      Mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan metode scaffolding.
3.      Mendeskripsikan perubahan kemampuan siswa dalam peningkatan keterampilan menulis dengan metode scaffolding.

D.    Hipotesis
Metode scaffolding mampu meningkatkan meningkatkan keterampilan menulis.











BAB II
Kajian Teori
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang mengambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang dapat membaca lambang- lambang grafik tersebut jika mereka memahami bahasa dan grafik tersebut (H.G Tarigan, 2008 : 22). Menurut Djago Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Lado dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu: meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton dalam St. Y. Slamet (2008: 141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks.
Istilah scaffolding pada mulanya diperkenalkan oleh Wood, Bruner, dan Ross (1976). Scaffolding dikembangkan sebagai sebuah metafora untuk menjelaskan tentang suatu bentuk bantuan yang ditawarkan oleh guru atau teman sejawat untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses scaffolding, guru membantu penguasaan tugas atau konsep-konsep yang sulit dicerna siswa. Guru hanya membantu siswa dengan memberikan arahan atau media dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dikuasai siswa, namun tanggung jawab penyelesaian tugas tetap pada diri siswa. Scaffolding atau mediated learning adalah teori yang dikemukakan oleh Vigotsky, khususnya terkait dengan ide tentang Zona Proximal Development. Menurut Vigotsky, tingkat perkembangan kemampuan anak itu berada dalam dua tingkatan/level, yaitu tingkat kemampuan aktual (yang dimiliki anak) dan tingkat kemampuan potensial (yang bisa dikuasai oleh siswa). Zona antara tingkat kemampuan aktual dan potensial itu disebut zona proximal development. Untuk mencapai tingkat kemampuan potensial itu, siswa memerlukan tangga atau jembatan untuk mencapainya. Salah satu tangga itu adalah bantuan dari seorang guru yang berupa penggunaan dukungan atau bantuan tahap demi tahap dalam belajar dan pemecahan masalah. Ragam bantuan yang diberikan tergantung pada tingkat kesulitan yang dialami siswa, misalnya: memecah tugas menjadi lebih kecil, mengatur bagian-bagian, mengajak berpikir ulang, membahasakan proses berpikir jika tugasnya kompleks; melaksanakan pembelajaran kooperatif, melakukan dialog dalam kelompok kecil, memberi petunjuk konkret, melakukan tanya jawab, memberikan kartu-kartu kunci, atau melakukan pemodelan. Di samping itu, bila diperlukan bantuan dapat berupa: mengaktifkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki siswa, memberikan tips-tips atau kiat-kiat, strategi, dan prosedur-prosedur kunci untuk melaksanakan tugas atau memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Bantuan itu diberikan agar siswa tidak frustasi karena mengerjakan tugas atau suatu keterampilan yang sulit dicapai/dilaksanakan. Klausmeier (1977) menegaskan bahwa scaffolding adalah salah satu pemikiran penting konstruktivis modern.

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger