tas
Home » , , » Kisah Dakwah : Kita Memang Manusia Biasa

Kisah Dakwah : Kita Memang Manusia Biasa

Written By Prito Windiarto on 05 January 2016 | 9:28 PM



Kisah Dakwah :  Kita Memang Manusia Biasa 

Kita Memang Manusia Biasa


Hal menarik ketika beberapa orang ditanyai alasan kenapa surut dan mundur-teratur, muntaber (mundur tanpa kabar berita)  dari Lembaga Dakwah ini, mereka diantaranya berdalih karena merasa jauh dari kata sholeh.
“Ah jangankan menasihati orang lain, sendiri juga masih belum bisa!”
“Banyak sifat buruk saya, rasa-rasanya gak cocok tetap ada di sana!”
“Sudah banyak orang hebat di sana. Saya malah minder. Hiks”
Dan ungkapan-ungkapan sejenis. Perasaan  takut  menjadi kaburo maktan menghantui. Kehati-hatian, rasa takut itu memang selazinnya ada, agar senantiasa menjadi instrospeksi bagi diri. Tapi apakah dengan dalih itu lantas menjadi sebuah  alasan untuk berhenti total? Ah rasa-rasanya tidak!
Menjadi individu yang sholeh/hah adalah proses panjang. Manusia takkan mungkin tanpa cela. Bukankah sudah kita ketahui sifat dasar manusia adalah  tempat salah dan lupa? Kealfaan adalah kewajaran yang penting tidak turuti, sebaliknya, terus berproses menjadi lebih baik, walau bisa jadi hanya sejengkal.
            “Saya gak bisa ngementor, ilmu saya masih sedikit, belum alim juga!”
            -lalu kapan kau akan punya banyak ilmu dan alim?-
            Ia menggeleng.

            Saudaraku, tak harus menjadi sempurna dulu untuk menyebarkan kebaikan. Tak mesti punya segudang ilmu dulu untuk menebar ilmu. Tak harus menjadi manusia supersuci untuk menasihati.
            Justru ketika kita sedang menyebar kebaikan, menebar ilmu, mencurah nasihat, di saat yang sama KITA SEDANG BERPROSES menjadi individu yang lebih baik, berilmu, dan sholeh”
            Imam Hasan Al Bashri Berkata,
“Jika lah hanya orang tanpa aib yang boleh memberi nasihat, dan orang yang memiliki aib tak boleh memberi, maka takkan ada yang tersisa yang memberi nasihat. Karena setiap orang punya aib, kekurangan. Maka takkan ada lagi kata nasihat-menasihati”  Padahal  bukankah dalam surat Al Ashr Allah melazimkankan  saling nasihat-menasihati dalam kebajikan?
Maka pemahaman yang selazimnya kita pegang adalah, sekali lagi, kita sedang berproses menjadi lebih baik lagi.
Mari berdakwah, sekemampuan, semaksimal yang kita bisa.
#Salam Satu Hati

Kisah Dakwah :  Kita Memang Manusia Biasa 


Share this article :

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger