Lihat Kumpulan Materi Soal CPNS

20.12.18

Kisah Perjuangan Mengikuti Tes CPNS Berkali-Kali Hingga Akhirnya Lolos

Kisah Perjuangan Mengikuti Tes CPNS Berkali-Kali Hingga Akhirnya Lolos

Kisah Pengalaman mengikuti tes CPNS 2014, 2017, 2018
 
Mengikuti Tes CPNS Berkali-kali
Bismillahirahmannirahim
Dear sahabat sekalian
Izikan saya bercerita
Kali ini tentang perjalanan saya mengikuti tes CPNS 2014, 2017, 2018

Saya (Prito Windiarto), mengikuti rangkaian seleksi CPNS kali ketiga tahun ini. Tahun 2014 lalu ikut seleksi di Pangandaran. Sayang, gagal dalam tahap administrasi. Saat itu masih menggunakan metode manual via bukti fisik yang dikirim lewat pos. Kesalahan saya, hanya satu. Harusnnya stempel legalisasi untuk KTP adalah dari Disdukcapil Kabupaten. Eh saya malah hanya tingkat kecamatan. Akhirnya ya gagal.
Itu menjadi pelajaran penting. Apalagi dalam seleksi CPNS yang memang dikenal ketat dan keras kita harus berhati-hati.
Di tahun 2014 itu ada dua kawan saya satu angkatan Teh Lina Marliani dan Teh Eva Siti yang lulus dan jadi PNS. Selamat… Ikut bangga…

Lalu… Saya baru bisa bermimpi….
Beberapa tahun kemudian yang ada sekadar moratorium. Penghentian sementara. Tak ada penerimaan.

Hingga akhirnya di 2017 ada juga kesempatan.
Libas habis. Saya akan berusaha mati-matian (cieeleh, kaya apa aja)
Kini sistem pendaftarannya dua sisi, online dan offline.
Saya mendafar di  formasi Kemdikbud jurusan peneliti ahli pertama.
Daftar di web SSCN di warnet. Terus daftar di portal khusus CPNS Kemdikbud.

Ada yang menarik di tahap itu. Barangkali karena daftarnya malam hari, haus juga, saya kurang fokus. Saat penulisan tanggal ijazah, saya malah menulis 25 November 1989. What? Ya. Tanggal ijazah malah terisi dengan tanggal lahir.

Ketahuannya setelah semua proses selesai. Aduh bagaimana ini. Keringat dingin. Bingung.
Ah, mungkin bukan rezeki saya tahun ini. Gagal juga di bagian seleksi administrasi.
Saya curhat dengan istri. Meminta maaf atas kecerobohan. Akhirnya kami menertawakan kecerobohan itu.

“Wah, hebat dong ayah, begitu lahir sudah dapat gelar S.Pd……”
“Haha, iya… Para Profesor pun kalah ya?”

Meski begitu, ternyata ada solusi dengan membuat surat pernyatan bermaterai. Saya pun menjelaskan keadaannya. Sambil berharap bisa dimaklumi……
Saya kirimkan surat penyataan itu beserta persyaratan lain yang memang harus dikirmkan via pos….
Beberapa saat kemudian, pengumuman seleksi administrasi pun ada.
Alhamdulillah, ternyata lolos. Panitianya baik hati.

Maka di Oktober itu saya mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Tempatnya adalah di Hotel Bumi Kitri, Bandung. Dari Kota Banjar saya berangkat naik kereta api Serayu. Malam hari. Dijajap anak-istri. Sampai di statsiun Kiara Condong dini hari. Menginap di mushola stasiun. Kemudian menjelang shubuh mencari masjid lain.

Selepas subuh, memesan Ojek Online – Go Jek. Kali pertama. Alhamdulillah sukses naik Ojek Online. Ongkos yang diekluarkan Rp.10.000. Terbilang murah. Sampai Hotel Bumi Kitri dengan selamat. Di sana sudah ada ratusan atau bahkan ribuan orang mengantre… Di sana pula saya bertemu beberapa kawan. Asep Dahlan salah satunya. Ia tes Sesi 1, pagi. Saya sendiri tes sesi ke 3, siang. Jadi ada waktu, selepas sarapan nasi goreng saya melipir dulu mencari masjid. Mandi, ganti baju, siap-siap. Bismillah.

Sembari menunggu saya kembali buka-buka buku. Belajar lagi. Tryout lagi materi. Buka-buka ebook. 

Bismillah.
Passing Grade TKD CPNS tahun itu
Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 75
Tes Intelegensia Umum (TIU) 80
Tes Karakeristik Pribadi (TKD) 143

Lumayan tinggi. Agak grogi juga. 100 soal harus dikerjakan dalam waktu 90 menit. Hoho.
Siang, selepas zhuhur ikut mengantre bersama pelamar lainnya. Kita hanya diizinkan membawa kartu peserta dan KTP. Seragam putih hitam. Barang-barang dititipkan. Pemeriksaan amat ketat. Saat itu panitianya gabungan dari BKN, LPMP, Kepolisian, bahkan tentara.

Satu jam menunggu, akhirnya tiba di ruang tes. Besar. Ratusan laptop. Selepas pengarahan sebentar, tes pun dimulai.

Sesuai saran banyak orang saya kerjakan berurutan tapi dengan prinsip, kerjakan yang mudah lebih dahulu. Kalau ada yang sulit, lewatkan saja….
Sembilan puluh menit nyatanya bukan waktu yang sebentar. Cepat sekali. Saat itu juga hasilnya bisa dicek.

Hasil saya, TWK 125, TIU 85, TKP 156, total 366. Alhamdulillah lolos passing grade…
 Ya walau pas-pasan, yang penting lulus Passing Grade…

Alhamdulillah, nilai / skor 366 itu didapat bukan dengan mudah. Nilai itu diraih kombinasi antara doa dan usaha. Saya belajar berjam-jam. Melahap banyak buku dan simulasi soal. Salah satu software yang sangat membantu latihan adalah cpnsonline. com. Portal yang telah meluluskan ribuan CPNS ini TOP. Bagi yang penasaran, silakan cek di sini

Nilai 366 memang lumayan tinggi, namun....

Belum aman… Karena harus dirangking.

Formasi yang saya lamar hanya membutuhkan 3 orang. Jadi untuk masuk tahap selanjutnya yakni Tes Kompetensi Bidang (TKB) saya harus masuk minimal ranking 9 besar. Saya sangat berharap masuk ranking….
Berminggu-minggu menunggu
Akhirnya pengumuman itu datang juga….
Saya buka dengan was-was, doa-doa terpanjatkan…. Bismillah…
Sayang, saya di peringkat 22,
Masih kurang dari target 9 besar.
Sedih, nyesek…. Hoho…
Teman yang lain juga banyak berguguran. Tahun itu kebanyakan di TWK….
Pengalaman tes CPNS 2017 itu mengajarkan saya banyak hal. Utamanya tentang ikhtiar, doa, dan menerima kenyataan. Alhamdulillah a’la kulli hallin.
Its ok!
Life must go on…
Coba lagi tahun depan….
Begitu tekad saja…


Gagal, coba lagi… Semangat…
Bagi sobat yang mau tes CPNS, semangat ya… Semoga Allah mudahkan jalan. Semoga tahun ini Allah kabulkan doa kita. Semoga rezeki kita. Alfatihah…

***

Tahun 2018 kabar penerimaan CPNS sudah berdengung sejak awal tahun. Terus dinantikan akhirnya fiks juga pengumumannya sekira bulan Agustus.
Pendaftaran dibuka akhir September sampai awal Oktober. Lewat satu pintu utama portal SSCN. Karena banyaknya yang akses server tersebut sempat down. Untunglah setelah beberapa kali lemot bisa diakses juga.

Di tahun 2018 ini  formasi yang saya pilih adalah Guru Ahli Pertama di SMPN 4 Banjar. Ya. Saya lebih memilih Kota Banjar tinimbang Kabupaten Cilacap yang notabene asal daerah saya. Alasannya karena memang sekarang saya tinggal di Banjar. Jadi yang Banjar aja.

Kota Banjar sendiri menyediakan 5 formasi untuk guru Bahasa Indonesia. Istriku memilih formasi di SMPN 5 Banjar. Sengaja biar tidak bentrok.
Kami mendaftar sekira tanggal 6 Oktober. Pertengahan…
Beberapa saat kemudian pengumuman seleksi administrasi.
Alhamdulillah lolos. Yes…
Menyusul kemudian jadwal dan lokasi tes (Seleksi Kompetensi Dasar).
Ternyata saya kebagian jadwal hari Senin 6 November 2018. Sesi 5. Alias sesi sore… Hoho…
Sementara istri di sesi 2 hari Rabunya.
Bismillah. Harus belajar giat. Dari buku, aplikasi di Play Store, ebook. Mengerjakan banyak latihan. Pokoknya persiapan harus benar-benar matang.
Optimis karena tahun lalu juga bisa melewati passing grade.
Tapi… tentu tidak over…
Terlebih setelah mendengar laporan dari teman-teman yang sudah mengikuti tes terlebih dahulu. Soalnya “horror” tahun ini. Kata mereka. Utamanya soal TKP (Tes Karakteristik Pribadi).

Senin itu, selepas dari sekolah saya pulang dulu ke rumah. Istri mempersiapkan keperluan saya. Berangkat sekitar pukul 13.00. Lokasi yang dituju gedung serbaguna – Bale Kota Tasikmalaya. Beberapa kali saat pakai maps untuk memastikan arah lokasi. Tidak mudah, tidak pula sulit.

Satu setengah jam kemudian sampai. Bertemu Asep Ab, Kang Mumu, Bang Yandi dan temannya, Kang Arfi, Darkino, orang Dayeuh, dan banyak lainnya.
Sebelum masuk ke area, kami menuju masjid dulu. Shalat ashar. Bersama banyak calon peserta lainnya. Selepas itu mengantre, menunggu giliran. Hanya boleh bawa KTP dan kartu peserta.
Sekitar pukul 16.30 perjuangan dimulai.
Strateginya garap dulu TWK 20 menit, kemudian TIU 20 menit, TKP 30-an menit. Sisanya mengerjakan yang belum sempat terkerjakan.

Walau kondisi lapar, bismillah, konsentrasi tak boleh pudar.
Beberapa saat setelah magrib, waktu habis. Yakin, optimis bisa lolos Passing Grade. Bismillah.
Setelah di-close, hasilnya……

Hasilnya adalah….
Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 120
Tes Intelejensia Umum (TIU) 125
Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 133
Nilai total 378…. Alhamdulillah…
Aww….. TKP-nya kurang 10
Agghhhh… Tipis…. Lemes…
Ya Allah…
Apakah tahun ini juga tidak lolos?

Nyesek…
Namun ternyata, banyak juga yang mengalami kejadian semisal. Bahkan ada banyak yang lebih nyesek, kurang 1 poin di TKP.
Kawan saya, Bang Yandi, kurang 8 poin. Kang Arief kurang 4 lagi. Nyaris.
Saya pun pulang. Ya walaupun hasilnya belum sesuai harapan, yang penting sudah berusaha.
Saya pun menulis status dan mengunggah foto di facebook
“Alhamdulillah sudah menyelesaikan salah satu tugas manusia: ikhtiar
Apapun hasilnya…”

Selama menunggu pengumuman, saya suka stalking akun BKN atau akun medsos seleksi CPNS. Sempat juga ikut menandatangani petisi untuk meninjau ulang passing grade. Karena ternyata sangat banyak yang tidak lolos pasing grade. Di Kota Banjar sendiri, dari sekitar 4000 pelamar yang lolos PG hanya 200 orang.
Secara nasional yang lolos PG nya 4 % dari pelamar. Hal tersebut tentu mengancam banyaknya formasi yang kosong. Akan sangat disayangkan jika itu terjadi.

Akhirnya…. Permenpan Baru pun turun. Intinya mengakomodasi bagi formasi yang kosong. Bagi yang kosong karena tidak ada yang lolos PG maka diberikan kebijakan perengkingan. Dengan batas nilai 255. Diambil tiga besar.
Jadi dalam pengumuman ada yang kategori P1/L, artinya prioritas 1 (lolos Pasing Grade) dan lolos ke tahap SKB (Seleksi Kompetensi Bidang). Ada P2/L (Lolos perengkingan) dan melaju ke tahap SKB. Ada juga yang P1/TL (Lolos PG tetapi tak ke tahap SKB), P2/TL, nilainya di atas 255 tapi tidak lanjut ke tahap SKB.

Lalu Prito bagaimana?
Alhamdulillah di formasi SMPN 4 Banjar ternyata tak ada yang lolos Pasingg Grade, sehingga status saya adalah P2/L. Bersaing dengan dua orang lainnya.
Di Kota Banjar, untuk formasi Guru Bahasa Indonesia, hanya 1 yang lolos Passing Grade yakni di SMPN 3 Banjar atas nama R. Dinne N. Ternyata beliau adalah adik kelas saya di Universitas Galuh.
Nah, sayangnya, di formasi itulah Bang Yandi mendaptar. Nilai kumulatifnya 370, lebih besar dari kumulatif d Dinne yang 365. Hanya saja d Dinne lolos passing Grade (P1/L). Jadi beliaulah yang berhak lanjut ke tahap SKB.

Tes SKB diumumkan beberapa saat setelah pengumuman nilai SKD. Mepet sekali, kurang dari 5 hari. Kota Banjar kebagian jadwal hari Sabtu-Minggu (8-9 Desember 2018). Tempatnya adalah di gedung serbaguna Balai Kota Tasikmalaya.

Bismillah. Saya bertekad menebus kebelumberhasilan di tahap SKB. Memang sih taka da PG di SKB ini, tapi saya akan berusaha dapat nilai yang baik.
Tahap pertama adalah menyelediki siapa dua orang kompetitor. Urutan ke dua adalah Pak Arko Susanto, teman sesama mengajar di Ganesha Operation Banjar. Urutan ke tiga, Pak Andri Yani Susilo, Kakak kelas di Unigal lulusan 2008. Alhamdulillah berarti keduanya masih terbilang kerabat. Dunia memang sempit ya, hehe.

Tahap kedua adalah belajar.
SKB itu seperti apa? Soalnya tentang apa? Apakah murni tentang permenpan?
Saya pun searching. Akhirnya ada ide untuk membuat grup Wa dan Channel Telegram. Banyak teman yang gabung. Saling sharing. Akhirnya ada gambaran. 30 persen soal pedagogik. 70 persen professional (dalam hal ini saya tentang jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia). Materinya adalah materi perkuliahan: deiksis, alofon, dll (yang mau tahu bocoran kisi-kisi SKB Keguruan / Pendidik Bahasa Indonesia manga wa ke 085292164070, insyaAllah kami share)

Saya berangkat ke Tasik setelah menyelesaikan urusan di sekolah. Sampai satu jam sebelum tes. Ada Pak Asep Guru MIN Dayeuhluhur, ada guru SD Panulisan. Ada pak Dedi Siswoyo, teman di SMP Muhammadiyah 3 Dayeuhluhur (Datar) yang juga ikut SKB Mapel Matematika. Ada kang Ade Juana. Ada juga Pak Arko Susilo. Kita bersaing secara sehat, fastabiqul khoirot.
Tegang. Masuk ruangan dengan dag dig dug…

Tes pun dimulai. Sekitar pukul 15.00 an.
Soalnya ada 100, waktu yang disediakan adalah 90 menit. Format pengisiannya sama seperti SKD. CAT dengan tampilan (interface) yang sama. Bismillah…
Seperti yang sudah dikemukakan di atas, ternyata 30 soal adalah tentang pedagogik. Bagaimana menjadi guru yang baik. Mengenai metode pembelajaran, dll.
Sementara 70 soal mengenai ke-profesional-an. Karena saya mengabil formasi guru, maka yang banyak keluar adalah soal mengenai kebahasaan dan kesastraan.
90 Menit berlalu.
Klik tombol selesai.
Hasilnya adalah….
…..
325….
Di bawah target dan ekpektasi yakni 350.
Namun, bagaimanapun, Alhamdulillah. Karena teman di sebelah ada yang hanya 190, ada yang 240, dll.

Skor 325 artinya saya menjawab soal benar sebanyak 65, lumayan dah…
Sekarang tinggal cari tahu nilai kompetitor. Berhubung sore, saya shalat ashar dulu ke masjid Bale Kota Tasik. Takut waktunya habis. Setelah menunaikan kewajiban, kembali ke arena tes CAT. Mau melihat nilai di layar (screen), yang disediakan panitia.
Mencari nama kompetitor saya yang juga tes di sesi itu… Nilai beliau 300.
Alhamdulillah…. Masih unggul 25 poin.
Kini giliran kepo nilai saingan berikutnya… di sesi tiga. Menunggu teknisi BKD yang berkenan menampilkan sesi 3.
Setelah lumayan lama menunggu, ternyata kompetitor ke dua itu nilainya di kisaran 200. Alhamdulillah.
Pulang dengan lega. Kembali ke rumah….
Mengabari istri, ia senang juga. Mengabari orang tua. Alhamdulillah gembira.
Tapi….

Ternyata harus menunggu lagi pengumuman, sekitar dua mingguan.
Sambil menunggu itu, juga kembali dihangatkan kabar perihal nilai 100 bagi yang punya sertifikat pendidik. Juga penambahan 10 poin bagi daerah 3 T.
Banyak yang sedih, SKD dan SKB nilai pertama, eh, ternyata sepertinya harus kalah karena saingannya punya sertifikat pendidik. Seperti kisah kawan saya ini yang diceritakan di sosmed miliknya…


Saat saya mengetik bagian ini, sedang menunggu pengumuman apakah lolos atau tidak. Semoga lolos ya. Aamiin.

Dan ternyata, tanggal 27 Desember 2018 ini ada pengumuman. 
Alhamdulillah, saya lolos CPNS 2018... Yey.... Nilai kumulatif saya 69, sekian. Unggul dari dua kompetitor lainya

Mungkin ada yang bertanya, apa yang membuatmu lolos CPNS? Apakah karena cerdas? Tidak juga. Lalu apa:
Keberuntungan.
Banyak orang yang cerdas, akademisnya bagus, tapi karena kurang beruntung, ya jadi tidak lolos.
Nah, namun jangan salah kaprah, ya sudah saya mah gak mau ikut seleksi, takut tak beruntung. Hei, bagaimanapun, keberuntungan itu hadir karena usaha.
Allah melihat ikhtiar kita. Sudah berusaha atau belum. Jika sudah berusaha, insyaAllah Sang Maha akan menurunkan pertolonganNya.

So, untuk menghadapi tes CPNS, selain kecerdasan, yang utama adalah usaha (belajar) dan berdoa.
Pertama, berdoa. Selain berdoa diri sendiri, minta juga didoakan orang lain. Utamanya orang tua. Ridho mereka adalah pembuka ridho Allah.

Kedua, belajar. Latihan.
Tersebab saya merasa bukan orang  cerdas, maka saya banyak berlatih. Dari buku, dari fotokopian, dari ebook, dari aplikasi, dll.
Menghabiskan waktu, banyak jam, untuk simulasi, salah satunya yang disediakan oleh cpnsonlinedotcom. Ada juga latihansoaldotcom Mereka mempunyai software yang kece badai. Banyak testimoni keberhasilan menembus CPNS. Pengalaman mereka menghadirkan simulasi yang jempolan memang hebat. Coba deh kawan-kawan. Untuk info lebih lanjut silakan klik di sini…

Selain belajar sendiri, tak ada salahnya juga ikut berlatih bersama teman. Saling sharing. Saya sendiri terus terang kelemahan utamnya di matematika. Untung istri saya pintar matematika. Sata diajarkan. Alhamdulillah, di CPNS 2018, nilai TIU saya malah melesat.

Nah sobat, demikian pengalaman saya mengikuti seleksi CPNS berkali-kali. Intinya perlu perjuangan. Usaha dan doa mutlak dilakukan.
Semoga kisah ini bermanfaat. Jika berkenan, mohon bantu share tulisan ini.
Terima kasih, salam hangat, sesama pejuang CPNS, Prito Windiarto.
Bersambung…