Tugas Makalah Etika Profesi Keguruan : Nilai dan Etika
Nama : Emmie Apriani
NPM : 2108090082
Prodi : Bahasa Indonesia
Kelas : 1F
1. Hubungan Filsafat dengan Teori Nilai
Secara Etimologi filsafat berasaldari bahasa Yunani “philoshopia” yang berasal dari dua kata “philos” ( cinta ) dan “shopia” ( kebijaksanaan ) yang dapat diartikan sebagai cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Dan teori nilai sendiri membahas tentang dua masalah yaitu etika dan estetika. Etika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yaitu watak kesusilaan, yang berpangkal dari nilai baik dan buruk sedangkan estetika merupakan nilai keindahan. Bila bicara tentang hubungan antara filsafat dan teori nilai, keduanya memiliki kesamaan dalam hal penyelidikkannya khususnya etika. Etika juga merupakan filsafat praktis ( filsafat yang membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada) atau dapat disimpulkan teori nilai merupakan cabang dari sebuah filsafat.
2. Makna Nilai
Nilai adalah kemampuan yang dipercaya yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia.
Menurut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
3. Hubungan nilai dengan Etika
Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan antara nilai dengan etika sangatlah erat. Keduanya dapat dikatakan sebagai hubungan sebab akibat dari etika yang merupakan cabang filsafat dan nilai yang berupa ukuran baik dan buruk sebagai objek kajiannya.
4. Makna Etika
Secara etimologi etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan, yang berpangkaldari nilai baik dan buruk.
Menurut Drs. O. P Simorangkir , etika menurut pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai baik.
Menurut Drs. Sidi Gajalba dalam Sistematika Filsafat, etika merupakan teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandangdari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
5. Tiga Syarat Etika
Tiga syarat etika yaitu tahu, bebas dan sadar.
Tahu yang merupakan hal yang berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk yang bermuara pada ganjaran. Jadi bila tahu perbuatan tersebut baik maka akan menerima pahala dan sebaliknya jika tahu perbuatan tersebut buruk maka akan menerima hukuman.
Bebas dalam arti tidak ada peksaan dalam berbuat baik dan buruk dan bebas juga tidak hanya melihat perbuatan baik dan buruk tetapi juga alasan.
Sadar harus melekat dalam perbuatan baik dan buruk, karena tanpa adanya rasa sadar suatu perbuatan tidak dapat dinilai baik dan buruknya.
6. Pandangan Determinisme tentang Kebebasan Manusia
Pandangan determinisme berpacu pada keteraturan maha besar, semua kejadian di dalam (dunia) berlangsungnya mengikuti hokum fisika dan metematis tunduk pada kaidah sebab-akibat.
Jadi setiap kebebasan manusia harus teratur sesuai nyang telah ditentukan Tuhan sebagai takdir.
7. Pandangan Indeterminisme tentang Kebebasan Manusia
Pandangan indeterminisme juga mengatur kebebasan manusia sesuai dengan ketentuan Tuhan tetapi dalam pendangan ini perbuatan bebas disebabkan oleh diri sendiri.
8. Kebebasan Manusia
Menurut saya kebebasan merupakan suatu perilaku yang telah dibawa sejak lahir, yang juga sebagai hak asasi manusia yang telah diatur UU tentang batasannya. Tetapi setiap manusiapun memiliki kriteria sendiri tentang kebebasan, tergantung sudut pandang yang diambil oleh individunya.Tetapi setiap menusia tersebutpun tidak boleh melupakan Tuhan yang telah mengatur batasan yang hakiki terhadap manusia sebagai ciptaannya.
9. Ukuran baik dan buruk menurut Lawrence Kohlberg
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya
a.Pra-Konvensional
Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.
Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.
Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.
b. Konvensional
Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi akonvensi sosial turan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik…
Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.
b. Pasca-Konvensional
Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.
Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut - 'memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak'? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini.]
10. Pandangan Aliran Filsafat tentang Ukuran Baik dan Buruk
Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, berkembang pula patokan yang digunakan orang dalam menentukan baik dan buruk. Keadaan ini menurut Poedjawijatna berhubungan rapat dengan pandangan filsafat tentang manusia (antropologia metafisika) dan ni tergantung pula dari metafisika pada umumnya. Poedjawijatna lebih lanjut menyebutkan sejumlah pandangan filsafat yang digunakan dalam menilai baik dan buruk, yaitu hedonisme, utilitarianisme, vitalisme, sosialisme, religiosisme dan humanisme. Sementara itu Asmaran As menyebutkannya sebanyak empat aliran filsafat yaitu adat kebiasaan, hedonisme, intuisi dan evolusi. Pembagian ini
tampak sejalan dengan pendapat Ahmad Amin yang membagi aliran filsafat yang
mempengaruhi penentuan baik dan buruk
a. Aliran Paragmatis
Aliran ini berpendapat bahwa baik dan buruk dilihat dari nilai kegunaannya.
b. Aliran Hedonisme
Sesuatu perbuatan disebut baik apabila mendapat kepuasan atau kenikmatan. Sebaliknya jika tidak mendatangkan kenikmatan berarti buruk. Jadi ukuran hedonisme harus bersifat kepuasan dan kenikmatan. Hedonism dapat bersifat subjektif dan obbjektif.
c. Aliran Utilitarisme
Pandangan yang mengukur baik dan buruk dari sisi kegunaannya. Yang berguna bersifat baik dan tidak berguna bersifat buruk.
d. Aliran Vitaliisme
Apabila kita memiliki kekuatan untuk menguasai orang lain itu bersifat baik dan jika tidak maka bersifat buruk.
e. Aliran sosialisme
Sesuatu disebut baik apabila masyarakat menganggap baik,jadi ukuran aliran ini tergantung dari penilaian masarakat.
f. Aliran Religisme
Segala sesuatu ditentukan baik atau buruk berdasarkan agama.
g. Aliran Humanisme
Sesuatu dikatakan baik dan buruk berdasarkan kodrat manusia dan terletak didalam hati.
Demikianlah Tugas Makalah Etika Profesi Keguruan : Nilai dan Etika
Blog berisi informasi seputar CPNS PPPK 2022. Materi pelajaran bahasa Indonesia, mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, ataupu MI, MTs, MA. Materi kuliah pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Sastra.
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
11.1.16
13.7.15
Cara Merujuk Kutipan
Cara Merujuk Kutipan
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Panduan Penulisan Karya Ilmiah
Disusun oleh
:
Prito
Windiarto
Tatang
Tahyudin
Nurlela
Aris
Taufik Madani
Kelas 3F
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
GALUH
2012
1) Cara Merujuk Kutipan Langsung
a.
Contoh kutipan kurang dari 40
kata
Parera (1988:42) mengungkapkan “kalimat efektif adalah kalimat yang dengan sadar atau sengaja
disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik.”
b. Contoh kutipan lebih dari 40 kata
Aminuddin (2009: 19) menjelaskan
membaca teknik sebagai berikut.
Istilah membaca teknik sering juga
disebut oral reading ‘membaca
lisan’ maupun reading aloud ‘membaca
nyaring’. Disebut demikian karena membaca teknik adalah membaca yang
dilaksanakan secara bersuara sesuai dengan aksentuasi, intonasi, dan irama yang
benar selaras dengan gagasan serta suasana penuturan dalam teks yang dibaca,.
Membaca teknik, selain dapat dikaitkan dengan kegiatan membaca teks ilmiah
secara bersuara, juga berhubungan dengan kegiatan membaca sastra, misalnya hal
itu terjadi karena pembaca poetry reading sastra secara lisan memiliki sifat
redeskriptif.
c.
Contoh kutipan yang sebagian kata
dihilangkan
“Yang dimaksud dengan transformasi adalah
mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam dunia
sekolah, sekolah itulah… transformasi.” (Suharsimi, 2003: 5)
2)
Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung
a.
Nama
pengarang Disebut Terpadu dalam Teks
Suharsimi (2003: 24) menyatakan betapa
pentingnya hubungan antara tujuan, KBM dengan evaluasi.
b.
Nama Pengarang Disebut dalam Kurung Bersama
Tahun Penerbitnya
Ragam dan jenis puisi bermacam-macam (Aminuddin, 2009: 134).
21.5.15
Pengertian Menulis
Pengertian Menulis
Prito Windiarto, S.Pd.
Menulis
merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang dipergunakan guna berkomunikasi
dengan orang lain secara tidak langsung, artinya tidak secara tatap muka.
Menulis merupakan bagian dari keterampilan berbahasa selain keterampilan
menyimak, berbicara dan membaca. Menulis memiliki tingkat kesulitan tertinggi
dibanding keterampilan berbahasa yang lain.
Pengertian
Menulis
Beberapa ahli berbeda pendapat mengenai pengertian menulis. Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI, 1989: 968) menyebutkan bahwa “Menulis adalah (1) membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan
pena (pensil, kapur, dan sebagainya); (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang,
membuat surat) dengan tulisan.”
Alwasilah dalam Siti Maryam
(2010: 221) berpendapat bahwa “Menulis adalah suatu proses psikolinguistik,
bermula dari formulasi gagasan melalui aturan semantik, kemudian ditata dengan
aturan sintaksis, selanjutnya disajikan dalam tataran sistem tulisan.”
Tarigan (2008: 22) mengungkapkan
“Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang
menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang, sehingga orang-orang lain
dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan
gambaran grafik itu.”
Berdasarkan
pengertian-pengertian di atas dapat diambil simpulan, secara sederhana menulis
diartikan sebagai suatu kegiatan menghasilkan karya berupa rangkaian huruf yang
bersusun membentuk kata, kalimat dan kemudian membentuk wacana dengan
mengunakan alat tertentu (pena, kapur, dan sebagainya).
Fungsi dan Tujuan
Menulis
Fungsi menulis pada
hakikatnya adalah sebagai alat berkomunikasi secara tidak langsung. Gagasan,
ide, pemikiran yang dimiliki oleh
penulis ditrasformasikan atau dikomunikasikan kepada pembaca lewat tulisan.
Menurut Tarigan (1994: 23) “Tulisan dapat membantu kita menjelaskan
pikiran-pikiran kita. Tidak jarang menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan
dan rasakan mengenai orang-orang,
gagasan-gagasan, masalah-masalah, dan kejadian-kejadian hanya dalam proses
menulis yang aktual.”
Tujuan menulis menurut
Hartig dalam Tarigan (1994: 23) adalah sebagai berikut.
a)
Assignment
Purpose (Tujuan
Penugasan)
Tujuan
penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis
sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang
diberikan tugas merangkum buku, sekretaris yang ditugaskan membuat laporan,
ataupun notulen rapat).
b) Altruistic
Purpose
(Tujuan Altruistik)
Penulisan
bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedudukan para
pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan
penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih
menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak akan menulis secara tepat
guna kalau dia percaya, baik secara sadar maupun tidak sadar bahwa pembaca atau
penikmat karyanya itu adalah ‘lawan’ atau ‘musuh’. Tujuan altruistik adalah
kunci keterbacaan suatu tulisan.
c) Persuasive
Purpose
(Tujuan Persuasif)
Tulisan
yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
d) Informational
Purpose
(Tujuan Informasional, Tujuan Penerangan)
Tulisan
yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para
pembaca.
e)
Self-Ekspressive Purpose (Tujuan Pernyataan
Diri)
Tulisan
yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada
pembaca.
f) Creative Purpose
(Tujuan Kreatif)
Tujuan
ini erat hubungannya dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi, “keinginan kreatif”
di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya dengan keinginan
mencapai norma artistik atau seni yang ideal, seni idaman. Tulisan yang
bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai keseniaan.
g) Problem-Solfing
Purpose
(Tujuan Pemecahan Masalah)
Dalam
tulisan seperti ini sang penulis memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis
ingin menjelaskan, menjernihkan, serta menjelajah serta meneliti secara cermat
pikiran-pikiran dan gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh
pembaca.
Berdasarkan
pengertian di atas tentang tujuan menulis dapat disimpulkan bahwa tujuan
menulis di antaranya adalah untuk menyampaikan informasi kepada pembaca, untuk
meyakinkannya atas gagasan yang hendak disampaikan penulis, juga untuk
menyenangkan hati pembaca. Demilianlah Pengertian Menulis
19.5.15
Contoh Format Pengajuan Judul Skripsi Bahasa Indonesia
Contoh Format Pengajuan Judul Skripsi Bahasa Indonesia
Ciamis,
25 November 2012
Yth.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP
Universitas Galuh
Di
Ciamis
Dengan
ini,
Nama : EMMIE APRIANI
No. Pokok : 2108090082
TK/SMT IV/ VII
|
Masalah :
·
Mengapa
novelis yang terkemuka sebagian besar adalah lelaki?
·
Faktor
apa yang menyebabkan, karya novelis lelaki lebih diminati?
·
Bagaimana
validitas teori yang menyatakan bahwa wanita baik dalam bidang seni dan
bahasa, sedangkan dalam kenyataannya jarang sekali kita mendengar nama
novelis wanita yang terkemuka?
Judul : KORELASI GENDER TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS
NOVEL
(
Penelian Terhadap Tingkat Dua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Galuh)
|
1.
|
Masalah :
·
Apakah
idealisme memepengaruhi wacana yang ditulis anggota Linguistika?
·
Seberapa
kuatkah idealisme mempengaruhi wacana berita yang ditulis oleh anggota
Linguistika?
Judul : ANALISIS WACANA KRITIS: IDEALISME PENULIS DALAM
WACANA BERITA TABLOIT LINGUISTIKA
|
|
Masalah :
·
Mahasiswa
program studi bahasa dan sastra Indonesia terkadang bingung menyalurkan
karyanya.
·
Bisakah
Tabloit Linguistika menjadi wadah tulisan mahasiswa?
Judul : PENGARUH TABLOIT LINGUIS MAHASISWA PROGRAM STUDI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
|
4.
|
Masalah :
·
Kurangnya
refensi novel sebagai bahan ajar di SMA
·
Kurangnya
kemampuan guru dalam memilih bahan ajar yang tepat untuk siswa SMA
Judul : ANALISIS UNSUR DEDAKTIS
NOVEL “AYAHKU BUKAN PEMBOHONG” KARYA TERE-LIYE MEMILIH BAHAN AJAR DI SMA
|
Terima kasih.
|
Catatan DBS:
|
Mahasiswa
ybs.,
EMMIE
APRIANI
2109080082
Demikianlah Contoh Format Pengajuan Judul Skripsi Bahasa Indonesia
ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah : Pembelajaran Membaca
Disusun Oleh :
EMMIE APRIANI
2108090082
2F
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2011
Nama : Emmie Apriani
Kelas : 2 F
NPM : 2108090082
Judul : Bidadari Bidadari Surga
Penulis : Tere-liye
Penerbit : Republika, Jakarta
Terbit : 2008
Tebal : ix + 368
Sinopsis Novel Bidadari Bidadari Surga
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22).
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah.
Mereka baik lagi cantik jelita. (Ar Rahman: 70).
Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan pertama kali terngiang di langit-langit ruangan:
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah.
Mereka baik lagi cantik jelita. (Ar Rahman: 70).
Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan pertama kali terngiang di langit-langit ruangan:
bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)....
Bidadari Bidadari Surga. Novel sederhana yang sarat makna akan kerja keras, pengorbanan, penghormatan, keikhlasan dan cinta keluarga.
Laisa, Bidadari Surga yang turun di lembah Lahambay menjadi kakak yang tidak pernah datang terlambat untuk adik-adiknya. Wanita yang merelakan hidupnya untuk keluarga namun menyimpan tangisnya di hamparan kebun stawbery. Dia selalu berkata:
Betapa indahnya kehidupan di luar sana (diluar Lembah Lahambay). Kalian akan memiliki kesempatan itu, yakinlah....
Kakak berjanji akan melakukan apapun demi membuat semua ini terwujud...."
Dalimunte menyeka ingusnya.
"Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya datang, dengarkan Kakak, kalian harus rajin
sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras. Bukan karena hanya demi Mamak yang sepanjang
hari terbakar matahari di ladang. Bukan karena itu. Tapi Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, kalian
harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras, karena dengan itulah janji kehidupan
yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput...."
(Bidadari-Bidadari Surga, mozaik Sejuta Kunang-Kunang, hal138)
Fisik dan keberuntungan yang berbeda dengan adik-adiknya tak membuatnya rendah diri. Meskipun Ikanaru dan Wibisana pernah tak mengakuinya sebagai kakak, para tetangga yang terus menggunjingkan jodohnya yang tak jua datang, dan para lelaki bodoh yang menghindar berjodoh dengannya hanya karena alasan fisik. Mereka tak menyadari kepribadian Laisa yang begitu mengutamakan orang lain. Begitu ridha dengan takdir-Nya bahwa Ia harus putus sekolah. Pun dalam masalah jodoh, ridha dengan takdir bahwa Ia tidak berjodoh dengan lelaki di dunia fana ini,
Dalimunte, Profesor hebat dengan hasil penelitiannya yang bernafaskan Islam. Dikisahkan dalam penelitiannya, dia membuktikan bahwa mukjizat nabi Muhammad membelah bulan bukanlah kiasan, namun benar adanya bahwa bulan memang terbelah kemudian disatukan kembali. Lalu penelitiannya tentang Badai Elektromagnetik Antar Galaksi yang dipaparkan dalam Simposium Fisika penelitiannya. Badai itulah yang diperkirakan akan membuat seluruh peralatan elektronik lumpuh. Semua itu diawali dari penemuannya tentang Kincir Air 5 Tingkat saat usianya menginjak 12 tahun yang memberikan perubahan besar akan kampungnya, Lembah Lahambay.
Wibisana dan Ikanuri, dua sigung nakal yang rapat satu sama lain, sosok pemberontak, suka membolos, dan jahil. Menyadari betapa berharganya kak Laisa, ketika insiden di gunung Kedeng. Ketika Laisa menyelamatkan mereka berdua dari terkaman penguasa gunung Kedeng. Namun ketika dewasanya sukses dengan bengkel modifikasi mobil.
Yashinta, si bungsu yang cantik dan rupawan yang begitu mencintai alam. Dewasanya sukses menjadi Peneliti konservasi alam, mencintai kegiatan mendaki gunung dan meyelami lautan. Hal itu dimulai dari kesempatannya melihat berang-berang di pagi buta bersama kak Laisa di usia 6 tahunnya.
Mamak, ibu yang ditinggal mati suaminya karena diterkam penguasa gunung kedeng saat mencari madu di hutan. Beliau mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang cerdas dan membanggakan, tumbuh dengan karakter yang kuat dan akhlak yang baik. Yaitu dengan metode bercerita selepas shubuh, seusai shalat bersama, mengaji bersama, Mamak akan menyempatkan diri lima belas menit hingga setengah jam bercerita. Tentang Nabi-Nabi, sahabat Rasul, tentang keteladanan manusia, tentang keteladanan hewan dan alam liar (dongeng-dongeng), negeri-negeri ajaib, dan sebagainya. Dari situlah imajinasi anak-anak terbentuk. Tidak ada gambar-gambar, karena Mamak tidak bisa membelikan mereka buku cerita. Juga tidak ada televisi. Mereka bisa melihatnya langsung di alam sekitar. Lembah mereka. Dan proses bercerita itu dilengkapi secara utuh dengan teladan, kerja keras, berdisiplin.
Cerita ini begitu menguras air mata, walaupun ada juga sisi-sisi lucu juga yang buat tertawa. Ada beberapa hal penting yang coba disampaikan dalam cerita ini:
Pesan tentang pentingnya mempunyai sosok teladan bagi anak sejak dari kecil, baik itu orang tua atau saudara, Dari sini saya menyadari satu hal, bahwa tugas menjadi Ibu tidak mudah. Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, mau tidak mau dituntut untuk menjadi sosok yang berilmu dan teladan yang baik bagi anak. Untuk menghasilkan anak yang baik, semuanya butuh proses yang baik. Tidak ada anak-anak di dunia yang instan tumbuh seketika menjadi baik. Masa kanak-kanak adalah masa 'peniru'. Mereka memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. Lingkungan, keluarga, dan sekitar akan membentuk watak mereka. Celakalah, kalau proses 'meniru' itu keliru. Contoh yang keliru. Teladan yang salah. Dengan segala keterbatasan lembah dan kehidupan miskin, anak-anak yang keliru meniru justru bisa tumbuh tidak terkendali.
Belajar tentang eskpresi cinta, bahwa perasaan itu tidak selalu harus dikatakan, cara menatap, cara bertutur sungguh cermin dari isi hati. Bahwa cinta itu, tidak hanya antara lawan jenis, tapi banyak cinta2-cintayang lain, seperi cinta kita kepada Allah SWT, kepada Rasulullah, kepada orang tua, saudara kita, teman-teman kita.
v Unsur-Unsur Intrinsik
Tema : Kemanusiaan
Alur : Maju-Mundur
Setting :
§ Tempat :
· Lembah Lahambay
· Jakarta
· Gunung Semeru, Jawa Timur
· Prancis
· Swiss
§ Suasana :
· Mengharukan
· Mencekam
· Lucu
§ Waktu : -
Penokohan :
§ Kak Laisa : kakak pertama
§ Dalimute : professor
§ Ikanaru : sigung nakal
§ Wibisana : sigung nakal
§ Yashinta : si bungsu
§ Mamak : ibu
§ Cie Hui : istri Dalimute
§ Cie Wulan : istri Wibisana
§ Cie Jasmine : istri Ikanaru
Sudut Pandang : Orang ketiga
Sudut Pandang : Orang ketiga
Diksi : Gaya bahasa yang digunakan sangat sederhana namun mengena
Amanat : Novel ini mengajarkan tentang arti cinta, keikhlasan, pengorbanan dan kerja keras. “ Dengan tekat kuat dan kerja keras, janji kehidupan yang lebih baik pasti datang”.
Demikianlah ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
Demikianlah ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
Langganan:
Postingan (Atom)