tas
Home » » Segores Fragmen

Segores Fragmen

Written By Prito Windiarto on 22 July 2012 | 12:07 PM

Segores Fragmen

oleh Prito Windiarto

Bismillahirrahmanirrahim.

Izinkan saya mengurai cerita. Bertahun lalu semasa di DH, Ust Hendra Hudaya, memutarkan sebuah film yang mengesankan : Kisah perjuangan Imam Bukhori. Pada kesempatan ini saya tidak akan meneceritakan seluruhnya. Saya hanya akan mencoba menyuguhkan satu fragmen singkat yang semoga bisa membri ibroh. Ini cuplikan tentang Ghil. (saya lebih merasa suka mengindonesiakannya sebagai “cemburu negatif” (bukan iri)).

Singkat cerita. Waktu berlibas cepat. Imam bukhori yang bernama asli Muhammad bin Ismail itu kini telah menjadi ulama kesohor. Bintangnya sebagai ahli hadits telah diakui. Perihal kecerdasan dan kesholihah nya tak perlu diragukan lagi. Namun, entah kenapa ditengah gegap gempita geliat ilmu itu, ada satu dua orang yang sinis terhadap imam Bukhori. Mereka tak enak hati melihat kemajuan itu. Maka, disusunlah sebuah rencana untuk menjatuhkan Imam Bukhori. Desas-desus perihal “kekurangan” imam bukhori didengungkan. Keraguan atas kapabilitas imam bukhori pun merebak. Puncaknya, atas permintaan penguasa, diadakanlah semacam “testing” terhadap imam bukhori. Beliau diminta hadir untuk diuji lisan oleh 10 ulama hadits. Testing yang didesain si “sinis’ tersebut untuk menjatuhkan imam bukhori. Maka soal-soal yang diajukanpun sebegitu sulitnya.

Imam bukhori diminta menyebutkan sebuah hadits lengkap dengan matan dan rawi-nya hingga Rasulullah. Tes seperti itu “tidak rumit”. Imam bukhori lolos. Tes berikutnya lebih sulit, Satu matan hadits dan rawinya dibolak-balik oleh penguji. Hadits yang amat panjang. Ah kalau kita mah bahkan mungkin mendengar soalnya juga nda mudeng. Dan parahnya lagi, soal itu bukan 1, melainkan sepuluh. Imam bukhori menarik nafas panjang, bertawakal kepada Allah, dan mengalirlah susunan hadits itu dengan baik tanta cela walau setitik. Bahkan Imam Bukhori membenarkan ketika ada penguji yang salah menyebut rawi. Para pengetes takjub. Mereka menyalami imam bukhori, berucap selamat. Dan si sinis itu lunglai. Usahanya gagal, TOTAL!



Sahabat… yang menarik dari kisah ini sejatinya adalah perihal si sinis. Orang itu bukan pencoleng, atau orang bejat. Ia ULAMA. Ya ULAMA, Ulama hadits juga. Kesinisan itu hadir karena kecemburuan. Ya cemburu negatif. Cemburu atas ‘sinar ilmu’ imam Bukhori.

Mungkin kita akan menganggap ulama itu ulama su’ (jelek). Ah padahal tidak demikian halnya. Rasa “cemburu/iri” adalah hal yang alamiah. Sekaliber ulama pun bisa terkena ‘penyakit itu’. Itu telah ditegaskanNya. Bukankah ada sebuah doa yang menyangkut ini? (nahasnya prito lupa. Astagfirullah) yang dalam nya ada frasa “Ghil-la liladizina Amanu” –Cemburu/iri terhadap orang mukmin. Ya. Allah menyuruh kita untuk berdoa padaNya agar dijauhkan dari Ghil kepada sesama mukmin. Lihatlah, Ghil itu memang ada, dan kita diminta untuk memohon dijauhkan darinya. Mari menyimak ayat suci berikut ;

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. “ Annisa : 32.

Sahabat. Dalam keseharian tentu saja kita akan menemukan orang yang “lebih bersinar” dari kita. Lebih cantik, lebih tampan, lebih kaya, lebih pintar, lebih cerdas, lebih disayang orang lain, lebih ‘mencuri perhatian’, dan lebih-lebih yang lainnya. INI KENISCAYAAN. Dan jika tiba-tiba ada cemburu yang menggeledak. Itu wajar. Itu tanda eksistensi kita sebagai manusia. Yang tidak wajar adalah ketika ia dibiarkan bersemayam lama, menjadikannya bibit-bibit iri yang kemudian menerbitkan dengki, hasud. Wal Iyadhu Billah.

Jika kecemburuan itu hadir, mari mengalirkannya menjadi positif. Cemburu positif, yang akan menggiring menuju fastabiqul khoirot, berlomba dalam kebajikan. Jika ada ikhwah kita yang lebih ‘disayang yang lain’, semoga itu menjadi bahan introspeksi, jangan-jangan kita terlalu egois, jangan-jangan kita, maaf-menyebalkan. Jika ada ikhwah kita yang lebih pintar, nilai-nilainya lebih cemerlang, mari ‘curi” ilmunya, tidak malah mencurigainya. Terdemikian contoh lainnya.

Terakhir, ikhwah fillah. Jika sampai detik ini, ketika membaca tulisan ini, masih ada Ghil kita kepada mukmin yang lain. Mari kita berdoa semoga ia dihilangkan. Mari berusaha untuk menggerakan hati menerima ‘kelebihan’ orang lain dan menjadikannya pelecut untuk menyamai bahkan melebihi orang itu.

Sungguh ikhwah sekalian. Jika banyak kotor hati kita, atau ia yang semakin mengeras, mari berdoa semoga dibersihkan dan dilembutkan. Mari saling mendoakan, agar melenyapkan Ghil diantara kita. Agar ukhuwah semakin erat. Dan RahmatNya semantiasa menayungi kita.

IKhwah sekalian, demikian goresan sederhana ini. Jikapun terkesan menggurui, maafkan. Karena sejatinya tulisan ini ditujukan untuk diri saya pribadi yang berlumur dosa. Semoga menjadi pengingat. Besar harapan, semoga ini bermanfaat, sekali lagi, agar ukhuwah semakin erat, persaudaraan semakin terikat.



Alhamdilillahi rabbil alamin

Kobong09-Army, 03 Juni 2012. Teruntuk diri pribadi dan ikhwah sekalian yang berkenan.

Salam hangat
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Cari Materi Pelajaran Lain

Terpopuler

Langganan Youtube

Powered by Blogger.
 
Support : Designer | Organized | Chanel
Copyright © 2013. Pelajaran Bahasa Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger